Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2014

(Book Review) Bittersweet Love


Judul     : Bittersweet Love
Penulis  : Netty Virgiantini & Aditia Yudis
Penerbit: GagasMedia
Tebal     : 244 halaman

Karena judulnya yang melankolis, awalnya saya sempat menyangka novel ini bakal bercerita tentang cinta menye-menye sepasang kekasih, atau tema klise semacamnya. Ya, saya melankolis, tapi bukan penggemar drama "lebay", hehe.

Namun, berhubung belum paham apa yang dimaksud karya duet, saya jadi penasaran sama konsep yang ditawarkan novel ini. Novel duet, maksudnya novel yang ditulis bersama oleh dua orang. Ini pertama kalinya saya membaca tulisan Netty Viargiantini. Sedangkan Aditia Yudis, saya pernah membaca beberapa fiksi singkat yang ia tulis di blognya. And I like her stories. Jadi, saya putuskan untuk membaca Bittersweet Love.

Novel ini terdiri dari dua novela. Novela pertama, Take It, bercerita dari sudut pandang Nawang, seorang gadis yang tak lagi bahagia sejak perceraian kedua orangtuanya.

Surya, ayah Nawang, yang jatuh cinta dengan Hesti, akhirnya bercerai dari istrinya dan menikahi Hesti. Pernikahan ini memberi Nawang saudara tiri, yaitu anak laki-laki Hesti yang bernama Hefin.

Nawang memilih tinggal bersama Ajeng, ibunya, yang kini telah menikah lagi dengan Adjie, duda yang istrinya telah meninggal karena kanker. Pernikahan ini mempertemukan Nawang dengan satu lagi saudara tiri, yaitu Joanna, anak perempuan Adjie.

Perceraian mungkin dipandang sebagai solusi terakhir ketika pernikahan tak bisa dipertahankan lagi. Tapi seringkali perceraian juga membawa luka dan rasa kecewa. Nawang tak pernah bisa menerima perceraian kedua orangtuanya, yang katanya dilakukan demi kebaikan bersama. Nawang menggugat:

"Kebaikan? Kebaikan yang mana? Untuk siapa?"

'Keluarga' menjadi kata yang terasa asing dan jauh. Nawang telah kehilangan keluarga yang dulu dicintainya, dan ia membenci dua keluarga barunya. Hefin adalah musuh bebuyutannya dalam tawuran antar pelajar kedua sekolah mereka. Sedangkan Joanna hanyalah adik tiri manja merepotkan yang harus diboncengnya setiap hari ke sekolah, dan ternyata malah ditaksir oleh Artan--sahabat sekaligus orang yang diam-diam disukai Nawang.

Merasa tak memperoleh kedamaian tinggal serumah bersama orang-orang yang terasa asing, Nawang memutuskan pergi sendirian ke rumah Akung, kakeknya di Tawangmangu. Perlahan kekerasan hati Nawang melumer saat Akung meminta Nawang menempatkan diri di posisi 'keluarga' yang dibencinya. Selain itu, Nawang mulai menyadari bahwa selama ini tatap mata Hefin yang aneh padanya, ternyata bukan mengandung kebencian...

Novela kedua, Pulang, dikisahkan dari sudut pandang Joanna. Jo, anak tunggal yang hidup bahagia dengan kedua orangtuanya, harus menerima kenyataan bahwa bundanya telah wafat dan ayahnya kini menikah dengan wanita lain. Padahal, tidak ada yang pantas menggantikan Bunda, menurutnya. Jo semakin tidak betah berada di rumah dengan adanya Nawang yang membencinya.
Jo sering membolos sekolah dan bertengkar hebat dengan ibu dan kakak tirinya. Jo kabur seorang diri ke Bandung, kota tempat semua kenangan baik tentang bundanya berada. Di tengah pelariannya, tiba-tiba Nawang the queen of evil meneleponnya. Apa iya Nawang sejahat yang ditunjukkannya selama ini?

Saya suka buku ini karena, meski diramu oleh dua penulis yang berbeda dari sudut pandang dua tokoh yang berbeda pula (Nawang dan Joanna), jalinan cerita tetap terasa utuh sebagai satu kesatuan.  Kompak. Saya juga menyukai tema keluarga yang melandasi cerita ini. Saya jadi membayangkan, seperti apa rasanya ya punya keluarga tiri? 

Bahagia karena menemukan sosok pengganti orang tercinta yang telah pergi? Atau malah bikin hidup tambah runyam gara-gara perselisihan antara orang-orang yang tadinya asing tapi kemudian dipaksa tinggal bersama sebagai 'keluarga'? Saya yakin, itu ngga mudah. Pasti butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang-orang yang kepribadiannya mungkin jauh berbeda dengan kita. Dan yang jelas, butuh komitmen dari masing-masing penghuni rumah supaya keluarga yang baru terbentuk ini bisa langgeng. Love needs effort, right?

Dari cerita Nawang & Jo, saya diingatkan lagi soal cinta sejati. Selama ini, kayaknya saya lebih banyak menuntut untuk dicintai daripada mencintai. Ingin supaya orang yang saya cintai berubah jadi lebih baik (menurut saya), padahal saya malas memperbaiki diri sendiri. Lebih sering berkata, "Ngertiin saya dong!" ketimbang "Apa yang perlu saya lakukan supaya bisa mengerti kamu?"

Padahal cinta itu selalu punya dua sisi yang harus dipeluk. Suka dan duka. Manis dan pahit. Memberi dan menerima.

Love is bitter. Love is sweet.

(Book Review) Salahkan Bintang-bintang


Judul      : Salahkan Bintang-bintang
Penulis   : John Green
Penerbit : Qanita
Tebal     : 424 halaman

Hazel Grace Lancaster, cewek 16 tahun pengidap kanker, dinyatakan sembuh setelah proses pengobatan yang panjang dan melelahkan. Sayang, paru-parunya terlanjur rusak karena penyebaran kanker. Dia tidak bisa lagi melakukan aktifitas sehari-hari layaknya seorang remaja; sekolah, hang out bareng temen, atau berolahraga. Boro-boro bisa petakilan, naik turun tangga aja ngos-ngosan. Hazel butuh pasokan oksigen ekstra dari selang dan tangki oksigen, yang dibawanya setiap saat. Selain itu, dia harus kontrol rutin ke dokter untuk mengecek kalau-kalau kanker itu tumbuh lagi. 

Hazel tidak merasa menang walau berhasil bertahan melawan kanker. Kehidupan lamanya tidak akan kembali. Dengan tubuh kurus, wajah sembab akibat efek samping obat kemoterapi, paru-paru rongsok, dan tangki oksigen yang diseretnya kemana-mana, Hazel menyebut dirinya mirip mayat hidup. Syukurlah Hazel punya orangtua yang selalu menyemangati. Ibunya, yang gerah melihat Hazel depresi dan sering mengurung diri di rumah, memaksanya ikut pertemuan kelompok pendukung penderita kanker. 

Tujuannya, supaya Hazel bisa bertemu teman-teman senasib di sana dan ngga frustrasi lagi. Hazel akhirnya bersedia, walau ogah-ogahan. Dengan skeptis, Hazel menceritakan bagaimana anggota-anggota silih berganti. Selalu ada yang absen karena sakit parah atau mati. Topik pembicaraannya ngebosenin banget: kanker. Ya iyalah. Belum lagi, ada ritual mendoakan para anggota yang sudah meninggal duluan. Daftar nama yang dibacakan bertambah panjang setiap kalinya. Hazel bahkan bertanya-tanya, kapan giliran namanya masuk dalam daftar itu. 

Suatu hari, anggota baru yang bernama Augustus Waters, sepertinya naksir Hazel. Hazel grogi banget karena udah lama ngga pernah ditaksir cowok, dan ngga pede sama penampilan fisiknya. Apalagi, meski sebelah kaki Augustus diamputasi karena osteosarkoma, cowok ini tetap punya aura keren dan beda. Misalnya, dia punya kebiasaan menyelipkan sebatang rokok di bibirnya. Alasannya? 

"Rokok tidak akan membunuhmu, kecuali jika dinyalakan. Dan aku tidak pernah menyalakannya. Lihat, ini metafora: Kau meletakkan pembunuh itu persis di antara gigimu, tapi tidak memberinya kekuatan untuk melakukan pembunuhan." 

Hazel dan Augustus pun segera akrab, bahkan sampe bertukar novel favorit segala. Hazel meminjami Augustus buku kesayangannya, Kemalangan Luar Biasa. Buku itu berkisah tentang kehidupan Anna, seorang pengidap kanker. Hazel ngefans banget sama Peter Van Houten, penulisnya.

"Peter Van Houten adalah satu-satunya orang yang kukenal yang seakan (a) memahami bagaimana rasanya sekarat, dan (b) belum mati."

Ternyata Augustus jadi suka juga sama buku tersebut, dan asyik membahasnya bersama Hazel. Mereka penasaran karena akhir ceritanya menggantung, dan kesal karena setelah bertahun-tahun si penulis sama sekali tidak meluncurkan buku lanjutannya. Nah, kalo yang ini saya ngerti deh. Ending cerita yang ngga tuntas itu... menyebalkan! Hahaha. Hazel dan Augustus pun sibuk menebak-nebak akhir cerita Kemalangan Luar Biasa, dan bertekad untuk menuntut jawaban dari penulisnya sendiri andai bisa bertemu langsung dengan Peter Van Houten.
  
Kejutan! Setelah berusaha lumayan gigih, Augustus berhasil menghubungi sang penulis dan saling berkorespondensi lewat e-mail. Peter Van Houten mengundangnya dan Hazel untuk bertemu langsung di Amsterdam. Hazel sangat ingin pergi, meski nafasnya semakin sesak dan tubuhnya mulai sering didera nyeri. Hazel ketakutan kankernya kambuh. Tapi tekadnya sudah bulat untuk bertualang bersama Augustus dan bertemu langsung dengan penulis Kemalangan Luar Biasa, meski keadaan Hazel bisa bertambah parah kapan saja. 

Sayang, sesampainya di Amsterdam semua tidak berjalan sesuai harapan! Peter Van Houten ternyata luar biasa menyebalkan, dan Augustus punya rahasia besar yang akan diungkapnya pada Hazel. 

Saya sudah membaca buku ini beberapa kali, dan sama sekali belum bosan. Sungguh unik, persepsi hidup dan mati dari sudut pandang Hazel dan Augustus. Dua remaja sekarat yang terpaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Saya suka dialog-dialog mereka yang menggelitik dan kadang filosofis. 

Alih-alih banjir airmata, kedua tokoh ini justru mengajak kita untuk sesekali menertawakan kematian, dan menyambutnya bagai kunjungan seorang teman. Lihat saja gaya Hazel menceritakan perjalanan penyakitnya pada Augustus.

"Aku didiagnosis kanker tiroid stadium IV ketika berusia 13 tahun." (Tidak kukatakan kalau diagnosis itu muncul tiga bulan setelah menstruasi pertamaku. Seakan: Selamat! Kau seorang perempuan. Sekarang matilah.)

Cuek abis kan?

Namun tidak bisa dipungkiri, siapa sih yang mau mati muda?? Begitu pula Augustus, yang takut dirinya akan segera dilupakan oleh dunia begitu dia meninggal nanti. Dia jadi terobsesi untuk meninggalkan "tanda" berupa kenangan yang berkesan bagi orang lain. 

"Kita menyerupai sekumpulan anjing yang mengencingi hidran air, menandai segala sesuatunya sebagai MILIKKU dalam upaya konyol untuk bertahan hidup dari kematian. Aku tahu itu konyol dan tak berguna, tapi aku hewan, sama seperti siapa pun lainnya." 

Kisah bertema cancer survival ini punya banyak dialog dan narasi mengharukan yang bisa bikin mewek. Tapi di sisi lain, ada pelajaran yang bisa diambil. Bahwa hidup itu berharga dan layak diperjuangkan. Bahwa kematian itu menakutkan, tapi tak terelakkan. Hal terbaik yang bisa kita lakukan di dunia adalah, live our life to the fullest, and embrace death like an old friend! 

Minggu, 30 Desember 2012

(Book Review) Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran




Judul      : Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran
Penulis   : Mark Haddon
Penerbit`: Kepustakaan Gramedia Populer
Tebal      : 325 halaman
ISBN       : 9789799104779

Sebetulnya, saya sudah membaca Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran sampai tamat. Waktu itu saya masih kuliah, dan meminjam buku ini dari seorang teman. Bertahun-tahun sesudahnya, tanpa sengaja saya melihat buku ini lagi di bagian bawah rak sebuah toko buku. Saya putuskan membelinya.


Why bother buying book that you’ve read before?


Oke. Saya tanya yaa... Ada ngga buku-buku yang tak akan cukup dibaca sekali saja? Ada ngga buku-buku yang ingin kamu miliki supaya bisa dibaca lagi dan lagi kapanpun (entah dibaca dari awal sampai akhir atau hanya di bagian-bagian cerita favoritmu)?


Kalau saya, ada. Salah satunya ya buku karya Mark Haddon ini.

Minggu, 08 Januari 2012

Finalis GoVlog - Last but Not Least! (tamat)




8 Desember 2011.

Denpasar, 10.00 WITA


Selesai ngulik layanan-layanan di Puskesmas Kuta I, rombongan kami berangkat lagi untuk menjalani agenda terakhir field visit: berkunjung ke YayasanKerti Praja (YKP). Yayasan non-pemerintah yang digawangi sekitar 45 orang staf ini sebagian besar didanai oleh Global Fund dan HCPI. Selain bergiat dalam penyuluhan mengenai IMS dan HIV/AIDS, YKP juga menyediakan layanan klinik IMS, klinik VCT, pendampingan ODHA dan penyediaan obat-obatan bagi ODHA.







Lewat program penyuluhan, aktifis-aktifis YKP berusaha menyasar para pekerja seks di Bali. YKP mendatangi langsung area lokalisasi, kafe-kafe dan panti pijat. Kendala-kendala yang sering mereka hadapi antara lain, kesulitan menjangkau para pelanggan pekerja seks. Yang beresiko tertular dan menularkan HIV bukan hanya pekerja seks, tapi pelanggannya juga. Banyak juga ODHA yang merupakan ibu rumah tangga. Mereka tertular HIV dari suami mereka yang ternyata pelanggan pekerja seks. *sedih...*


Di YKP sendiri, kami sempat bertatap muka dengan Mbak Bulan dan Ibu Ratna (bukan nama sebenarnya), dua orang wanita ODHA yang menjadi dampingan aktifis YKP. Kira-kira darimana mereka terinfeksi HIV? Dari pelanggan seks? Dari jarum suntik? Tidak. Kedua wanita ini adalah ibu rumah tangga biasa, yang tertular HIV dari suami mereka.


“Tahun 2007, saya baru tahu kalau saya kena HIV. Sempat syok juga...” Mbak Bulan mulai bercerita. Syukurlah, wanita berusia menjelang 40 tahun ini tidak terpuruk lama. Ia lalu bergabung dengan peer group di YKP. Di sini ia bisa berbagi semangat dan pengetahuan dengan sesama ODHA ataupun memperoleh informasi kesehatan dari konselor. Ibu berputra dua ini sangat bersyukur ketika tahu dari hasil tes bahwa anak sulungnya tidak tertular HIV.


“Tinggal si bungsu yang belum dites. Mudah-mudahan dia juga nggak tertular...” Doa Mbak Bulan penuh harap. Meski harus hidup dengan HIV dan terus mengkonsumsi ARV, Mbak Bulan tampak sehat dan penuh semangat.


“Cita-cita saya sih, suatu saat nanti pingin buka usaha sendiri. Supaya anak-anak saya bisa hidup lebih baik dari ibunya.”


Sedikit beda dari Mbak Bulan yang terbuka, Ibu Ratna lebih pendiam, tapi tetap ramah dan bersedia ngobrol dengan para finalis GoVlog.


“Awalnya, suami saya sakit-sakitan. Terus disarankan periksa darah. Dari situ baru ketahuan, suami saya kena HIV.. Saya sampe sempat pingsan waktu itu,” kenang Ibu Ratna.


“Lalu saya diajak periksa darah juga, supaya tahu saya tertular apa nggak. Ternyata.. saya juga kena HIV.” Ibu Ratna menghela nafas panjang. Suaminya telah meninggal dunia, dan kini Ibu Ratna harus melanjutkan hidupnya. Mengurus anak-anak dan menjaga kesehatan diri sendiri. “Ya sudah, ikhlas, dijalani saja,” pungkas wanita berkerudung hitam ini sambil tersenyum.


Kendala lain bagi para pegiat YKP adalah rasa lelah dan jenuh ketika menghadapi para pekerja seks yang cuek saat diberi penyuluhan tentang seks aman, malas kontrol ke klinik IMS, putus obat ARV, dan lain-lain. Tapi bagi para pekerja lapangan dan konselor YKP yang sudah terlanjur cinta pada pekerjaan mereka, kendala ini justru jadi tantangan menarik. Buktinya, banyak juga lho aktifis yang sudah belasan tahun bergiat di YKP dan masih aktif sampai sekarang!


Hari beranjak siang. Kami harus pamit, karena panitia sudah memanggil kami untuk kembali naik ke bus, dan bersiap meninggalkan Bali.. kembali ke tempat asal kami, membawa cerita-cerita epik tentang para petarung anti HIV/AIDS. 


Last but not least, field visit kami di Bali memang berakhir hari ini, tapi perjuangan kita semua melawan HIV/AIDS belum selesai. Let’s keep fighting, people!











~fiuhh, tamat juga akhirnya~

Posted via Blogaway for RuriOnline

Sabtu, 07 Januari 2012

Finalis GoVlog - Last but Not Least! (part 1)


Oiya, buat yang belum baca dari awal gimana saya bisa nyasar ke Bali, bisa simak link-link ini dulu yaa: ^___^v


8 Desember 2011.
Denpasar, 07.30 WITA

Huaheemm.. Masih ada kantuk sisa tengah malam kemarin rupanya. Untunglah jadwal field visit hari ini baru akan dimulai pukul 08.30 WITA, jadi saya masih sempat leyeh-leyeh dulu sebelum sarapan.. ^.~  Pagi ini, kami akan bertamu ke Puskesmas Kuta I yang letaknya dekat saja dari Hotel Santika Kuta tempat kami bermalam.

Nampang di depan puskesmas


Setelah sarapan, kami cukup berjalan kaki saja ke Puskesmas Kuta I. Puskesmas yang dikunjungi sekitar 150 pasien setiap harinya ini memiliki dua gedung; gedung induk dan gedung BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak). Gedung induk yang kami kunjungi ini sendiri terdiri dari tiga lantai. Gede banget ya!

Sebagai bentuk partisipasi pencegahan dan penanggulangan infeksi menular seksual (IMS) serta HIV/AIDS, Puskesmas Kuta I mendirikan klinik IMS, klinik VCT (Voluntary Counselling and Testing) Rijasa, dan klinik methadone. Kalau di beberapa postingan GoVlog sebelumnya saya sudah menyinggung tentang klinik IMS dan klinik VCT, kali ini saya akan cerita sedikit tentang klinik Methadone. Klinik ini dibentuk sebagai salah satu implementasi program harm reduction (pengurangan dampak buruk) bagi para pengguna narkoba suntik atau penasun.

Ketika ngobat, para penasun punya kebiasaan memakai satu jarum suntik secara bergantian dengan teman-temannya. Padahal kalian tahu kan, salah satu cara penularan infeksi HIV adalah melalui darah yang terkontaminasi virus tersebut. Kebayang dong, alangkah tinggi resiko penasun untuk menularkan atau tertular HIV lewat jarum suntik yang dipakai keroyokan itu!

“Salah sendiri kenapa ngobat?”
“Nah, udah tau beresiko, makanya berhenti pakai narkoba dong!”

Mungkin begitu komentar kita. Tapi bagi seorang pecandu, tidak semudah itu meninggalkan narkoba. Gejala putus obat yang harus dialami jika berhenti begitu saja memakai narkoba—seperti rasa sakit di seluruh sendi, gelisah, berkeringat, mual, muntah—sangat menyiksa. Maka dibuatlah program harm reduction yang punya beberapa tahap. Pertama, pengguna didorong untuk berhenti memakai narkoba. Kalau belum bisa, penasun diajak untuk beralih dari obat suntik ke obat minum atau bergabung dengan terapi methadone.

Di klinik ini, pengguna narkoba bisa menjalani terapi rumatan methadone atau methadone maintenance therapy (MMT). Narkoba yang biasa mereka pakai, seperti heroin, morfin, dsb akan diganti dengan methadone. Methadone ini adalah sejenis opiat sintetis yang kekuatannya setara dengan morfin, tapi gejala putus obatnya tidak sehebat morfin dan lebih aman bagi organ-organ tubuh manusia.

Di puskesmas Kuta I, sediaan yang ada berbentuk sirup. Dosis methadone akan ditingkatkan apabila pengguna merasa dosis itu belum nendang. Setelah didapatkan dosis yang pas, dosis itu dipertahankan selama beberapa waktu. Lalu, sedikit demi sedikit akan diturunkan sampai akhirnya pengguna narkoba bisa bebas dari kecanduannya. ^o^ Pagi itu saat saya mampir ke klinik methadone, ada pasangan turis asing yang datang untuk memperoleh dosis harian methadone-nya.

“Iya, layanan klinik methadone kita tidak hanya untuk warga Bali saja, tapi turis atau pendatang pun bisa ke sini,” jelas dokter Wita, salah satu dokter umum yang bertugas di Puskesmas Kuta I. “Pengguna bisa datang tiap hari ke sini dan minum obat methadone langsung di depan petugas puskesmas,” sambungnya.

Selain itu, di klinik ini juga disediakan jarum suntik steril gratis bagi para penasun, supaya mereka tidak perlu berbagi jarum dengan orang lain. Jarum-jarum tersebut, setelah dipakai langsung diserahkan kembali untuk dimusnahkan. Program pembagian jarum suntik (needle syringe program) ini terutama untuk penasun yang masih bandel belum mau beralih ke obat minum dan berdalih begini, “Nggak bisa nge-fly kalau nggak nyuntik!” Mereka juga dilatih untuk mensucihamakan peralatan setiap kali menyuntik.

Mungkin ada sebagian kalangan yang memandang sinis program harm reduction. “Bukannya dibantu supaya  berhenti makai, kok malah dikasih jarum suntik gratis dan methadone.”

Tapi seperti yang tadi saya bilang, tidak mudah menyembuhkan drug addict dari kecanduannya. Butuh waktu! Harm reduction memang hanya upaya jangka pendek untuk memutus mata rantai penularan HIV/AIDS. Para pecandu narkoba nantinya juga akan dibantu untuk sembuh dari adiksinya melalui layanan psikologis dan psikiatri.

Para staf Puskesmas Kuta I & 10 Finalis GoVlog



~bersambung~

Minggu, 01 Januari 2012

Finalis GoVlog - Dari Jalan Melati Hingga Jalur Gaza (part 3)

Jalan Bung Tomo, 22.30 WITA
Bus yang kami tumpangi berhenti di Jalan Bung Tomo. Kawasan yang terkenal sebagai tempat mangkal waria pekerja seks ini sering disebut Ubung karena hanya berjarak beberapa menit saja dari terminal Ubung. Sepi, hanya satu-dua waria berbusana mini yang melintas, mungkin hendak mencari pelanggan. Kawasan ini memang biasanya baru mulai ramai menjelang tengah malam. Di tepi jalan ada beberapa pria duduk-duduk. Menurut Mas Arya, mereka adalah preman-preman yang berjaga kalau-kalau ada pelanggan yang berlaku onar atau berbuat kasar pada waria Ubung.
Sebuah skuter lewat dan parkir tak jauh dari bus kami. Sekilas dari rambut panjangnya yang tergerai, saya pikir pengendaranya seorang wanita, tapi Mas Arya berkata, “Nah, itu dia ketua waria di sini.”
Mas Arya, Mas Bastian, dan Mas Rendy turun dari bus menyambutnya. Supaya tidak tampak mencolok, hanya beberapa finalis GoVlog yang boleh ikut turun. Tak lama, mereka kembali naik ke bus bersama sang ketua waria.
Namanya Karisma. Waria berkacamata ini adalah ketua OSIWA (Organisasi Sosial Waria) Ubung, yang ternyata ada di bawah naungan Yayasan Gaya Dewata. Beranggotakan sekitar 40 orang (sebagian adalah pekerja seks dan ODHA), OSIWA ikut dalam beberapa diskusi kesehatan yang diadakan YGD. Selain itu, mereka aktif mengajak para waria pekerja seks untuk rutin memeriksakan kesehatan beberapa bulan sekali, mengecek adakah infeksi menular seksual atau HIV. Jika ada yang positif terinfeksi HIV, akan didampingi untuk memperoleh konseling dan pengobatan. Di luar itu, OSIWA juga punya beberapa prestasi di bidang olahraga dan entertainment.
Ya, kaum waria, kaum yang seringkali dipandang sebelah mata ini, ternyata punya kegiatan-kegiatan positif dan aktif dalam pencegahan HIV/AIDS.
“Kami ingin diakui sebagai anggota masyarakat juga, dan tidak melulu dipandang negatif,” kata Mbak Karisma sebelum menutup perjumpaan dengan kami.

Jalur Gaza, 22.30 WITA.
Sekarang kami melintasi beberapa bar di Jalan Seminyak yang padat pengunjung, meruah ke trotoar dan jalan-jalan. Agar tak menarik perhatian, bus diparkir agak jauh dari Jalur Gaza, julukan ngetop untuk kawasan hiburan para gay ini. Para peserta tidak turun semua sekaligus, melainkan dibagi menjadi beberapa rombongan kecil. Saya, Mbak Vina, Fadel dan Rahmat dipandu Mas Bastian berjalan kaki menuju kerumunan ratusan manusia di trotoar.   

Waria & beberapa finalis GoVlog

Telinga saya mencoba beradaptasi dengan suara musik yang berdentum-dentum. Saya berbaur dengan puluhan atau mungkin ratusan orang yang bersantai di trotoar. Awalnya berpasang-pasang mata menatap aneh saya dan Mbak Vina. Tuh kan.. Kerudung kami menarik perhatian.. Tapi itu cuma sebentar. Tak lama kemudian, mereka kembali asyik dengan kegiatannya masing-masing.
Di trotoar, beberapa waria dengan make up tebal dan baju mini melintas, mencari pelanggan. Sesekali berpose seksi saat beberapa turis membidikkan kamera pada mereka. Kadang mereka terpekik senang saat berpapasan dengan temannya, cipika-cipiki sebentar lalu kembali ke kesibukannya semula. Di seberang jalan, berjajar beberapa bar gay yang dihiasi lampu warna warni. Di dekat pintu masuk salah satu bar yang terbuka lebar-lebar, ada panggung kecil tempat seorang pria atletis berdiri. Hanya mengenakan sehelai celana dalam, pria itu menari erotis; meliuk-liukkan tubuhnya yang mengkilap berkeringat. Di sekitar panggung, berjejalan para pengunjung bar yang juga berdisko seirama musik. Beberapa orang yang mungkin tertarik melihat tariannya beranjak masuk ke bar.
Di bar sebelahnya, seorang waria ber-wig pink menyanyikan secara lipsync sebuah lagu dari band Aqua. Meski mengenakan sepatu high heels, ia tetap lincah melenggak-lenggok di atas panggung, kadang-kadang genit menjawil beberapa pengunjung yang sedang menyaksikan penampilannya. Pekerja seks, penari erotis dan karyawan bar di sini tak semuanya warga setempat. Ada pula yang datang dari pulau lain seperti Lombok atau Jawa.


Mas Bastian memperkenalkan kami pada Yudi dan Oding, dua aktifis Yayasan Gaya Dewata yang malam itu sedang membagi-bagikan brosur edukasi dan kondom gratis sebagai bentuk kampanye seks aman untuk mencegah penularan IMS dan HIV. Sambil berbincang dengan saya, Oding menawarkan kondom gratis pada seorang waria yang melintas. Waria itu menerimanya, lalu dengan kenes menyelipkan kondom itu di bagian dada mini dress-nya. Oala.
“Kegiatan bagi-bagi kondom ini memang rutin kita lakukan beberapa kali seminggu,” cerita Oding. “Kita mulai keliling jam 10 malam sampai sekitar jam 4 pagi.”
Di luar aktifitasnya sebagai anggota YGD, cowok kalem ini bekerja sebagai penjaga sebuah butik di Bali. Nggak capek?
“Nggak. Kita sempet istirahat sebentar kok sebelum berangkat kerja pagi-pagi. Lagipula, kegiatan ini kan nggak tiap hari.”
Wow, salut dengan semangat mereka! *two thumbs up*
Akhirnya panitia memberi kode pada kami untuk kembali menuju bus. Dengan sedikit berat hati karena obrolan kami masih seru, saya berpamitan pada Oding.
“Makasih ceritanya ya. Sukses selalu!” kata saya.
“Iya sama-sama. Kamu juga ya, sukses lomba blognya!”
Ternyata sudah pukul 00.30 WITA, saudara-saudara! Agenda field visit hari kedua selesai. Kami kembali ke hotel, membawa banyak pengalaman baru yang membuka mata kami bahwa banyak pejuang yang gigih memerangi HIV/AIDS di sini.


~bersambung~

Finalis GoVlog - Dari Jalan Melati Hingga Jalur Gaza (part 2)



Denpasar, 14.00 WITA.
Syukurlah, setelah makan siang dan sholat, otak dan mata saya mulai bisa diajak konsentrasi lagi. Cacing-cacing perut kesayangan saya pun sudah tertidur nyenyak, kekenyangan. Kami berangkat ke markas Kita Sayang Remaja (KISARA). Lahir pada 14 Mei 1994, KISARA adalah sebuah organisasi remaja sukarela di Bali yang berada di bawah naungan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia).
KISARA dibentuk karena ingin ikut peduli terhadap problema remaja seperti penyalahgunaan narkoba dan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas, misalnya hubungan seks pranikah yang tidak aman, kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual, hingga HIV/AIDS. Salah satu caranya, dengan memberi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi yang dikemas dengan pendekatan remaja. Kegiatannya banyak! Ada penyuluhan ke sekolah, pelatihan, acara konsultasi via siaran radio remaja, telepon dan e-mail.
Para relawan KISARA rata-rata merupakan mahasiswa, malah ada juga yang masih pelajar SMA lho. Hmm, rasanya saya ingin menyentil telinga para pelajar sekolah (bahkan mahasiswa) yang hobi tawuran dan bilang pada mereka, “Daripada baku hantam nggak jelas, kenapa nggak melakukan hal keren dan berguna kayak gini??”
Sesudah acara diskusi, kami diajak melihat-lihat markas KISARA. Ruangan yang cukup lapang itu letaknya di lantai tiga dan sekat-sekat membaginya menjadi beberapa ruang kecil. Sinar matahari dan angin siang itu bebas menerobos masuk lewat jendela-jendela yang dibuka lebar. Di dinding yang bercat cerah, ada beberapa poster yang juga berwarna cerah berisi gambar-gambar edukasi HIV/AIDS. Saya melongok ke satu ruangan tanpa kursi dan meja. Di sana terhampar karpet dan bantal-bantal duduk, cozy banget... bikin saya pingin duduk melingkar di sana dengan teman-teman semua, ngobrol sambil mengamati gedung-gedung dan pepohonan di luar jendela besar.
“Ini ruang konsultasi. Remaja-remaja bisa ngobrol, berbagi masalah yang dihadapinya dengan relawan di sini,” kata salah seorang relawan.
Turun kembali ke lantai terbawah, kami diajak melihat-lihat klinik VCT. Ruang tunggu klinik cukup nyaman dengan adanya kursi-kursi, sejumlah tabloid dan brosur untuk dibaca dan televisi untuk para pengunjung. Selain klinik VCT, di sini ada klinik IMS dan laboratorium sederhana. Jika relawan KISARA menemukan remaja yang perlu menjalani tes IMS atau VCT, mereka akan mengajaknya untuk menemui konselor VCT dan menjalani pemeriksaan lab di sini. Tentu saja secara sukarela tanpa paksaan. Oya, kalau masih penasaran dengan kegiatan-kegiatan KISARA yang lain atau ingin bergabung, simak website KISARA di www.kisara.co.id <-- ^__~
Hari hampir sore, kami pamit untuk kembali ke hotel. Pukul 16.00 WITA, kami istirahat dulu dan mesti berkumpul lagi di lobi garis miring ruang makan pukul 20.00 WITA untuk makan malam dan bersiap melaksanakan agenda seru: berkunjung ke transgender and gay hotspots!

Hotel Santika Kuta, 20.30 WITA.
Usai makan malam, kami masih berbincang-bincang di meja makan di sisi kolam renang. Tidak mengenakan busana atasan putih bawahan jins—dresscode wajib para finalis GoVlog selama field visit di Bali, kali ini kami berpakaian bebas. Memang Mas Rendy yang menyarankan begitu, agar di transgender and gay hotspots nanti kami tidak tampak mencolok dan lebih mudah membaur dengan para pengunjung di sana.
Ya, malam ini kami akan menyambangi tempat-tempat di mana para waria dan gay berkumpul. Entah kemana panitia field visit akan membawa kami, tapi yang jelas kami baru akan berangkat ke sana sekitar pukul 22.00 WITA, karena kawasan-kawasan itu baru mulai ramai dan hidup menjelang tengah malam.
Tiba-tiba kami kedatangan dua tamu yaitu Mas Arya dan Mas Bastian, aktifis Yayasan Gaya Dewata (YGD), sebuah organisasi yang didirikan oleh komunitas gay di Bali.

Mas Arya & Mas Bastian dari Gaya Dewata

Organisasi ini punya misi untuk mencegah penyebaran infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS di kalangan gay, waria dan LSL (lelaki suka lelaki) lainnya. Melalui kegiatan-kegiatan seperti penyuluhan IMS dan HIV/AIDS, mengajak mereka yang termasuk kelompok beresiko terinfeksi HIV untuk memeriksakan diri ke klinik, pembagian kondom sebagai kampanye safe sex, kursus menjahit dan keterampilan salon, dsb YGD berusaha melakukan pendekatan terhadap kalangan-kalangan itu. Kalau mau tahu kiprah YGD lebih detil, langsung aja buka www.gayadewata.com ya!
“Kami berusaha memberi bekal keterampilan supaya semakin banyak waria pekerja seks atau gay pekerja seks bisa mencari nafkah tanpa harus berkecimpung lagi di dunia prostitusi,” kata Mas Arya. “Misalnya, mereka kami arahkan untuk buka usaha menjahit atau salon kecil-kecilan, jadi dancer dan entertainer.”
Berhasilkah?
“Ya sudah banyak yang sekarang mandiri dengan pekerjaan barunya, tapi banyak juga yang bandel dan kembali menjadi pekerja seks.”
Waktu beranjak makin malam. Kami bersiap berangkat ke dua tempat: pertama, ke Jalan Bung Tomo—yang terkenal sebagai tempat mangkal para waria pekerja seks. Kedua, ke Jalan Seminyak—kawasan hiburan dengan bar-bar yang sering dikunjungi para gay.  
Saya sempat deg-degan juga sih. Saya kuatir bakal tampak mencolok dengan kerudung saya. Hei, tapi kan saya nggak sendirian. Ada Mbak Vina dan Febi—dua finalis wanita GoVlog selain saya, juga Mbak Galuh dari vivanews.com, kami semua berkerudung.
Oke.. ayo berangkat. Whatever will be, will be deh!


~bersambung~

Kamis, 29 Desember 2011

(Book Review) The Truth About Forever



Judul      : The Truth about Forever
Penulis   : Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Tebal      : 284 halaman
ISBN       : 9797802299

Ketika seseorang tahu sisa usianya tinggal sebentar lagi, masihkah hidupnya punya makna?

Makna itu hilang dari diri Yogas sejak dokter memperkirakan dirinya hanya akan bertahan hidup beberapa tahun saja karena virus HIV yang ada dalam tubuhnya. Yogas harus minum obat secara rutin, sekedar untuk memperpanjang masa sehatnya sebelum infeksi di tubuhnya berkembang menjadi AIDS. *maaf yaaa sedikit SPOILER WARNING*  -__-

Jika sisa hidup Yogas adalah sebuah gelas kaca yang terisi air separuhnya, bagaimana Yogas harus menyebutnya? Gelas yang separuh kosong, ataukah gelas yang separuh penuh?
Bagaimana Yogas harus memandang diri sendiri? Sebagai orang yang sekarat akan mati karena HIV, atau orang yang hidup dengan HIV?

Awalnya, Yogas memandang dirinya sebagai orang yang sekarat akan mati. Tanpa harapan. Tanpa masa depan. Hidupnya adalah gelas yang separuh kosong. Semangat dan cita-cita Yogas pupus. Selain itu, orang-orang yang disayanginya menjauh setelah tahu tentang penyakit Yogas. Merasa putus asa, Yogas memutuskan pergi dari rumahnya di Jakarta, menuju Yogyakarta untuk balas dendam pada seseorang; penyebab hancurnya hidup Yogas.

Dalam pencarian itu, Yogas bertekad untuk tak berbuat baik pada siapapun atau menerima kebaikan dari siapapun. Menyayangi dan disayangi adalah hal-hal tidak berguna. Toh dia akan berpisah juga dengan semua orang. Entah berpisah karena mereka menjauhi Yogas setelah tahu tahu penyakitnya, atau berpisah karena Yogas mati.

Tapi sekeras apapun Yogas berusaha menghindar, Tuhan tetap mempertemukannya dengan orang-orang yang peduli padanya, tulus mengulurkan kebaikan. Salah satunya, Kana—gadis tetangga sebelah kamar kos Yogas. Kana cuma ingin bersikap baik, sementara Yogas membenci Kana yang ia anggap sok ikut campur urusan orang. Itu awalnya, sebelum Yogas mulai bimbang dengan perasaannya sendiri terhadap Kana: benci atau cinta?

Membaca novel ini, saya merasa dibawa menyelam dalam-dalam di laut hati kedua tokoh utamanya. *apa seeeh* :p Saya terbahak-bahak saat Yogas berkata, “34A,” untuk mengomentari bra warna pink yang dijatuhkan Kana tanpa sengaja tepat di dekat Yogas. Saya ikut meringis perih sesampainya di adegan-adegan sikap ketus Yogas menanggapi perhatian Kana, dan alasan sebenarnya di balik itu: “Kita nggak punya masa depan.” Ketika Yogas akhirnya bertemu dengan orang yang menjadi sumber petaka dalam hidupnya, saya juga geregetan, malah ingin mengambil alih belati di tangan Yogas untuk membalaskan dendamnya. *Bunuh aja, Gas! Bunuh!* *sadis mode ON* >___<


Kelebihan lain novel ini adalah cara Orizuka membagi informasi penting tentang HIV/AIDS kepada pembaca. Dalam postingan saya berjudul Remaja Harus Melek HIV/AIDS, saya membahas sedikit tentang kampanye masal HIV/AIDS bagi remaja. Pastinya, penyuluhan searah yang boring ataupun ancaman dosa-neraka yang menyuruh mereka menjauhi seks bebas dan narkoba saja nggak bakal cukup! Remaja adalah kalangan unik yang perlu pendekatan tersendiri. Mereka ingin dihargai pendapatnya, ingin diajak berdiskusi bukan ditakut-takuti, ingin didekati sebagai teman bukan obyek.
Salah satu alasan orang menghindari kontak dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) adalah karena takut tertular. Padahal, virus HIV tidak menular semudah virus influenza. Bersentuhan, berpelukan, gigitan nyamuk, memakai peralatan makan yang sama atau tinggal bersama ODHA tidak akan membuat kita ikut terinfeksi!
Nah, kalau informasi di atas saya sajikan seperti itu, jadi mirip brosur kesehatan ya? *garuk-garuk kepala* Tapi The Truth about Forever berhasil menyampaikannya dengan apik lewat narasi atau dialog, misalnya:
“Gas, bukannya kamu yang paling tau kalo virus HIV nggak menular lewat air liur?” kata Kana ketika Yogas minta supaya peralatan bekas makannya dibuang saja.
Atau ini: “Waktu itu, aku masih anak-anak, aku masih terlalu ngeri dengan kata-kata HIV. Setelah tau Yogas punya virus itu, aku langsung menjauh. Bukan cuma aku, kedua orangtuanya juga menjauh. Mereka, seperti aku, malu dan takut karena penyakit itu.”
Jauh dari membosankan, apalagi menggurui kan? J
Kalau selalu harus ada retak pada setiap gading, maka ketidaksempurnaan novel ini mungkin ada pada setting cerita. Dalam novel Infinitely Yours, detil setting terasa sangat nyata, lengkap dengan rute bus dan dialog berbahasa lokal, sehingga saya seakan-akan berada di Korea. Tapi sensasi itu tidak saya alami selama membaca The Truth about Forever. Perpindahan setting dari Jakarta ke Yogya, stasiun Tugu, kampus UGM, UPN, pantai Parangtritis, terasa sama saja. Dialog-dialog berbahasa Jawa juga sangat jarang, hanya terselip satu-dua.

Satu lagi yang mengusik, diceritakan bahwa rumah sakit sering menolak Yogas berobat karena dia pengidap HIV, sehingga Yogas enggan datang lagi untuk mendapatkan obat antiretroviral (ARV). Setahu saya, dalam beberapa tahun terakhir sudah lebih mudah bagi ODHA untuk mengakses obat-obatan. Ada lebih dari 10 rumah sakit rujukan HIV/AIDS di Jakarta dan setidaknya lima rumah sakit di Yogya yang tentunya menyediakan ARV, belum lagi klinik-klinik VCT (Voluntary Counselling and Testing) yang juga menyediakannya. CMIIW J

Bagaimanapun, The Truth about Forever berhasil menyampaikan pesannya, bahwa hidup bisa lebih berarti jika dijalani dengan optimis: sebagai gelas yang separuh terisi. Hidup yang singkat bukan alasan untuk putus asa dan berhenti mengejar cita-cita, tapi justru harus jadi cambuk semangat untuk berbuat yang terbaik..

Esok belum tentu ada buat kita, jadi ayo lakukan yang terbaik hari ini. ^o^
 

Minggu, 25 Desember 2011

(Book Review) Oppa & I

 


Judul               : Oppa & I
Penulis            : Orizuka & Lia Indra Andriana
Penerbit          : Penerbit Haru
Tebal               : 156 hlm
ISBN                : 9786029832532
Novel Oppa & I sedikit mengingatkan saya pada sepotong dialog dalam film animasi Disney, Lilo & Stitch: “O’hana means family. Family means no one is left behind - or forgotten." O’hana artinya keluarga. Keluarga itu berarti tak ada seorangpun yang ditinggalkan, atau dilupakan.

Kamis, 15 Desember 2011

10 Finalis GoVlog - Field Visit Pun Dimulai

Cerita sebelumnya simak di sini ya ^__~ :


6 Desember 2011
Bandara Ngurah Rai.
Alhamdulillah.. Setelah menempuh penerbangan dari Jakarta selama kira-kira satu setengah jam, kami—enam finalis GoVlog dan dua personil vivanews.com—tiba di Denpasar.

Rabu, 14 Desember 2011

10 Finalis GoVlog - Berangkat ke Bali


Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 2F.
6 Desember 2011
Saya duduk di pinggir pot palem di samping sebuah kedai kopi franchise ternama. Bengong. Saya datang kepagian! Memang sih, saya sengaja berangkat pagi-pagi sekali dari rumah karena paranoid akan kemacetan lalu lintas Jakarta. Prinsip saya, di Jakarta, demi mengejar momen-momen penting lebih baik datang lebih awal daripada terlambat dan menyesal. ^.^v
Ehm, memang ada momen penting apa sih? Masih ingat cerita saya sebelumnya tentang terpilihnya saya menjadi salah satu dari 10 finalis lomba blog “Remaja dan HIV/AIDS” yang diadakan AusAid dan vivanews.com? Buat yang belum baca, boleh simak sebentar di sini ya :D Dari 10 finalis yang akan melakukan field visit ke Bali, enam diantaranya berangkat dari Jakarta. Oleh panitia, kami disarankan sudah tiba di bandara paling tidak satu sampai satu setengah jam sebelum jadwal keberangkatan, yaitu pukul 9.55 WIB.

Minggu, 11 Desember 2011

Nominator GoVlog - Meruntuhkan Gunung Es


Percayakah Anda, ada sebuah gunung es di Bali?



Gunung es itu bernama HIV/AIDS.

Lengkapnya, Human Immunodefficiency Virus/ Acquired Immune Defficiency Syndrome. Tidak ada yang tahu persis kapan dia mulai tumbuh dari dasar laut, tapi puncaknya mulai menyembul ke permukaan pada tahun 1987. Saat itu, untuk pertama kalinya ditemukan kasus HIV/AIDS di Pulau Dewata.

Sabtu, 10 Desember 2011

10 Finalis Lomba Blog AusAid - vivanews.com

Awalnya, saya melihat banner iklan lomba ini di blog seorang teman:

Rupanya, Australian Aid dan vivanews.com menyelenggarakan lomba blog ini untuk menyambut Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember. Tema lomba "Remaja dan HIV/AIDS" sukses membuat saya tergelitik untuk ikut serta. Mengapa? Jumlah  ODHA baru di Indonesia terus bertambah, dan ditilik dari usianya banyak di antara mereka yang masih tergolong remaja. Mengenai statistik rincinya, saya pikir sudah banyak diberitakan di media jadi saya tak akan membahasnya di sini.
Tertarik dengan tema tersebut, saya menulis tiga artikel untuk disertakan dalam lomba, judulnya Haipe Eids itu Apa, Bu? , Remaja Harus Melek HIV/AIDS, dan Ayahku ODHA dan Aku Bangga Padanya. Dua artikel pertama lahir karena keprihatinan saya tentang masih rendahnya tingkat pemahaman remaja Indonesia akan HIV/AIDS. Sedikit banyak, hal ini tentu menjadi penyebab tingginya angka penularan HIV/AIDS di kalangan remaja.
Ibarat mengendarai mobil, bagaimana mungkin menghindar dari bahaya terperosok ke jurang kalau tidak tahu jurang itu bentuknya seperti apa?

Selasa, 29 November 2011

"Ayahku ODHA dan Aku Bangga Padanya"


Dear Ayah,
Bagaimana kabar Ayah di sana? Kuharap Tuhan menjaga Ayah dengan baik. Sejak hari ini dan seterusnya, Ibu dan aku tak bisa lagi bertemu Ayah. Ibu menangis terus. Aku juga sedih, makanya kutulis surat ini agar sedihku berkurang sedikit.
Kusimpan foto Ayah di bawah bantalku supaya bisa kulihat kapanpun aku rindu. Foto Ayah waktu masih bugar, belum menyusut karena AIDS. Ayah tak pernah menyembunyikan kenyataan bahwa Ayah telah terinfeksi HIV, terutama dariku; satu-satunya putra Ayah.
“Infeksi itu adalah teguran dari Tuhan untuk Ayah,” begitu selalu jawab Ayah, jika aku bertanya mengapa Tuhan tega membiarkan Ayah sakit.
Di masa muda, Ayah pernah menjadi pecandu narkoba. Dengan berbagi alat suntik bersama teman-teman segengnya, Ayah menyuntikkan obat-obat terlarang ke tubuhnya. Dari situlah HIV menemukan celah masuk ke tubuh Ayah, berkembang biak diam-diam, kemudian merusak kekebalan tubuh Ayah menjadi selemah-lemahnya.

pengguna narkoba suntik

Lalu Ayah mengenal Ibu, sosok yang memberi kekuatan pada Ayah untuk bangkit. Berubah. Ayah ikut program rehabilitasi. Ayah pergi sejauh mungkin dari teman-teman geng. Ayah giat bekerja serabutan apa saja untuk mencari nafkah.  Ayah menangis dalam sujud pertaubatan tiap malam.
Saat dokter di tempat Ayah menjalani rehabilitasi menganjurkan Ayah untuk dites HIV, Ayah bingung.
“HIV? AIDS? ODHA? Apa itu, Dok?” Semua terdengar asing di telinga Ayah. Dokter menjelaskan beberapa hal, juga menyisipkan brosur ke tangan Ayah untuk dibaca. Ayah mulai mengerti, bahwa Ayah termasuk kelompok beresiko tinggi terinfeksi HIV. Ayah datang lagi pada dokter untuk dites.
Sehari sesudahnya, Ayah mendapat dua berita. Berita bahagia: Ibu positif hamil empat bulan. Berita sedih: Ayah positif terinfeksi HIV.
Ayah menyampaikannya pada famili dan beberapa sahabat, sekedar berharap mendapat dukungan semangat atau doa. Tapi mereka justru mengucilkan Ayah. Menyebut infeksi itu penyakit kutukan. Membiarkan Ayah bergulat sendiri dengan penyakit yang namanya saja baru dikenalnya. Mencibir. Berkata itulah hukuman yang pantas untuk masa lalu Ayah.
Syukurlah ada Ibu, ya, Yah? Ibu rajin mencari tahu info tentang HIV-AIDS darimana saja: koran bekas pembungkus cabai, brosur, radio sampai televisi. Makanya Ibu tahu dirinya tak akan tertular cuma gara-gara bersentuhan, berpelukan, makan dan minum dengan alat yang sama, atau tinggal bersama Ayah. Ibu tetap tegak di sisi Ayah, menggandeng tangan Ayah, ikut pontang-panting mengumpulkan uang agar Ayah bisa minum ARV rutin, juga membantu Ayah berjuang mendapatkan bantuan pengobatan ARV gratis dari organisasi internasional.
Ayah dan Ibu juga terus mencoba menjalin silaturahmi dengan keluarga, sambil menyelipkan obrolan seputar pengetahuan HIV/AIDS. Syukurlah lambat laun mereka mulai menerima Ayah lagi. Tapi masih ada satu kekhawatiran Ayah:
“Ayah takut mati. Tapi lebih takut lagi kalau kalian sampai mati karena tertular penyakit Ayah.”
Setelah aku lahir, Ibu dan aku dites HIV. Hasilnya negatif lho, Yah! Mendengar itu, Ayah tak henti bersyukur. Ayah tertawa sambil menangis saking leganya ya, Yah?
“Keadaan Ayah bisa memburuk kapan saja. Ayah bisa pergi kapan saja. Tapi sebelum itu, Ayah mau sisa umur Ayah berguna. Ayah ingin kamu bangga sama Ayah!” kata Ibu, Ayah pernah ngomong begitu padaku yang waktu itu masih bayi.
Sejak itu Ayah bergabung dengan organisasi pendampingan ODHA. Ayah mendampingi beberapa ODHA, mengingatkan mereka supaya terus minum ARV, menyemangati mereka. Ayah diundang untuk berbagi pengalaman dengan remaja. Masa lalu Ayah bukan pengalaman yang membanggakan, tapi Ayah membaginya sebagai peringatan, agar tak ada lagi remaja yang berbuat sebodoh Ayah dulu.


Benar juga ya, Yah? Sebagai ODHA pun manusia masih bisa berkarya, bermanfaat buat orang lain!
Setelah bertahun hidup bersama HIV, sepertinya tubuh Ayah mulai lelah. Ayah sakit-sakitan. Virus itu berhasil menggerogoti kekebalan tubuh Ayah. Infeksi oportunistik bermunculan sebagai akibatnya. Wajah Ayah makin tirus. Bahu kekar Ayah, tempat duduk kesukaanku saat masih kecil, berubah jadi tonjolan tulang-tulang berbalut kulit. Dan hari ini Ayah menutup mata untuk selamanya.
Bagiku, Ayah bukan manusia terkutuk atau pecundang. Ayah adalah manusia biasa yang pernah salah jalan, lalu bertaubat dan sungguh-sungguh berusaha menebus kesalahan. Ayah adalah pejuang hidup yang kalah terhormat.
Jika kelak orang-orang bertanya siapa Ayahku, akan kuceritakan perjalanan hidup Ayah. Akan kukatakan pada mereka, “Ayahku ODHA, dan aku bangga padanya.”
Ayah, sudah dulu ya. Aku mau temani Ibu dulu biar tidak menangis terus. Aku tahu ini akan sulit, tapi aku akan berusaha kuat, seperti Ayah. Aku ingin Ayah bangga padaku.

Tertanda,
Putra



*Artikel ini adalah opini penulis, bukan surat sebenarnya.

Jakarta - DKI Jakarta