Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Minggu, 26 Agustus 2012

Pindah Rumah

we're moving out
Beberapa bulan belakangan ini cukup melelahkan buat saya dan suami. Perjanjian kontrak rumah yang kami tempati berakhir di penghujung Mei 2012. Untuk selanjutnya, kami akan pindah ke rumah yang sedang kami urus pembeliannya. Hanya berjarak satu blok saja dari rumah kontrakan. 

Tapi, target pindah ke rumah baru terancam molor karena proses jual-beli ternyata tidak semulus dugaan. Jadi, rumah ini awalnya dimiliki oleh Nyonya A yang berstatus janda. Setelah Nyonya A wafat, rumah ini menjadi milik kelima anak-anak Nyonya A, sebut saja si B - F. Maka, proses jual-beli baru disebut sah jika kelima ahli waris tersebut setuju. Masalahnya, Tuan B--putra sulung mendiang Nyonya A, telah lama tinggal di Belanda dan menjadi warga negara di sana.

Tambah ribet deh syarat-syarat yang harus dipenuhi. Harus ada surat ini-itu yang butuh stempel Kedubes RI dan Pemerintah Belanda, selain tandatangan Tuan B. Setelah beberapa minggu mencoba menyelesaikannya lewat e-mail, pos dan sambungan telepon jarak jauh yang mahal BANGET, anak-anak Nyonya A sepakat bahwa Tuan B akan langsung datang saja ke Indonesia!

Sembari menunggu mereka menyelesaikan keribetannya, suami meminta perpanjangan kontrak rumah pada pemiliknya, yang berakhir 31 Mei 2012 menjadi 31 Juli 2012. Tentu saja ada biaya sewa tambahan yang mesti kami bayarkan. Alhamdulilah, tak lama kemudian kami dan kelima ahli waris itu bisa melangsungkan akad jual-beli rumah di sebuah bank syariah milik pemerintah, yang menurut suami saya pelayanannya lambret, tapi ngga apa-apa deh yang penting cicilannya fixed rate. Hehehe.

Akad berlangsung tanggal 28 Mei 2012, dan kami memberi waktu 30 hari pada anak-anak Nyonya A untuk berkemas dan pindah dari rumah tersebut. Kami juga mulai mengepak barang-barang kami sendiri untuk diboyong ke rumah baru. 

let's pack everything
Eeh.. ternyata anak Nyonya A molor dua minggu dari waktu yang ditentukan! Alasannya, kitchen set belum selesai dipasang di apartemen barunya di kawasan Kelapa Gading, jadi belum bisa angkut barang-barang ke sana. Saya bawaannya mau sewot deh, tapi suami bilang sabar aja. Belum lagi tetangga-tetangga udah ribut bertanya, "Kapan pindahan?" 

Dan respon mereka semua saat tahu waktu kepindahan mundur dari jadwal gara-gara penghuni rumah  ngaret pindah, "Ih, kok mau aja sih? Kan kasian Bu Ruri jadi harus perpanjang waktu sewa rumah, keluar biaya lagi. Kalo saya sih, bakal minta uang pengganti tuh. Buat 'biaya keterlambatan'." Grrrhh.. *asah gigi taring*

Akhirnya, lewat tanggal 8 Juli 2012 rumah itu kosong juga. Hal pertama yang kami lakukan adalah pembersihan besar-besaran di seantero rumah. Soalnya, penghuni rumah sebelumnya miara doggy. Yaa, kami kuatir aja ada bekas liur si doggy yang tertinggal di sana, padahal bagi umat Islam liur anjing termasuk najis yang harus dibersihkan dengan cara khusus, ngga cukup dipel dengan air. Suami sempat browsing di internet dan menemukan beberapa fatwa yang menjelaskan bahwa yang disebut najis adalah air liur anjing, sedangkan bekasnya yang sudah mengering yang menempel di lantai atau dinding, tidak dianggap najis. 

Tapi demi ketenangan hati, kami memutuskan untuk mensucikan seluruh rumah. Alhamdulillah, ada beberapa anak remaja masjid yang mau dikaryakan untuk bersih-bersih. Fiuh...  *Ada yang punya fatwa lain yang terpercaya soal mensucikan tempat yang kena bekas liur doggy? Sharing dong. CMIIW ya*

Bulan Ramadhan sebentar lagi datang, padahal suami bersikukuh mau mengecat dulu dinding dalam rumah, saya sangsi kami bisa pindahan sebelum Ramadhan. Duuuh, ngga kebayang deh harus boyongan di siang terik saat sedang puasa... *mendadak berasa haus*

"Nanti aja Mas ngecat rumah, setelah pindahan kan bisa."

"Nggak ah. Lebih leluasa ngecat saat rumah masih kosong melompong. Lagipula kasian kamu nanti pusing gara-gara bau cat. Ya udahlah, nggak apa-apa ya Say kalo memang terpaksa pindahan saat bulan puasa."

Jadilah suami saya kerja rodi ngecat rumah. Bapak, ayah suami saya, ikut turun tangan mengecat dinding setiap  hari sepulang beliau dari tempat kerja, dari sore sampai malam hari. Hiks, terharu. Makasih Bapak... *sungkem*

Tanggal 20 Juli 2012, sehari sebelum puasa, kami bertekad bulat banget untuk maksain pindahan ke rumah baru, siap ngga siap! Saya sampai izin ngga masuk kerja sehari. Untungnya rumah kontrakan dan rumah kami jaraknya dekat, jadi transportasi barang-barang cukup pakai gerobak besi super gede yang kami pinjam dari masjid kompleks. Syukurlah dua orang tetangga Bapak juga bersedia ikut bantu-bantu mengangkut barang. Bantuan yang ngga ternilai harganya!

Wow, hebat banget nih!
Malam harinya, badan pegal luar biasa. Kardus-kardus kami biarkan begitu saja tergeletak memenuhi ruang tengah. Nantilah bisa di-unpack pelan-pelan. Kami pun tewas dengan sukses! *bergelimpangan di atas kasur*

Syukurlah, biarpun rumah ini ngga baru, ngga mewah, dan ngga semegah istana, biarpun proses jual-belinya cukup alot dan penuh perjuangan, dan pindahannya melelahkan, akhirnya kami bisa tinggal di sini. Di tempat yang, masih dengan rasa setengah ngga percaya, kami sebut rumah. A place called home. Baiti jannati.

Alhamdulillah. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan kamu dustakan?

8 komentar:

  1. Selamat menempati rumah baru Mba Ruri...

    BalasHapus
  2. waaah Ruri rumah baru, makan-makan...makan-makan, xixixi. Selamat menempati rumah baru. Baiti Jannati

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, untuk acara makan-makannya hayuk Win main kemari! :D

      Hapus
  3. Alhamdulillah...., ikut seneng, Mbak, semoga semakin bahagia dalam rahmat-Nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, makasih pak Ustadz untuk doanya :D

      Hapus
  4. wah, boleh dong Bu Ruri mengajak mengundang kami kopdar di rumah Ibu. :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. serius Mat? aku mah seneng2 aja.. hayuk dah pasukan kodok kawin silakan main ^_^

      Hapus

Terima kasih untuk komentarnya :)