Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Selasa, 18 Februari 2014

(Book Review) Salahkan Bintang-bintang


Judul      : Salahkan Bintang-bintang
Penulis   : John Green
Penerbit : Qanita
Tebal     : 424 halaman

Hazel Grace Lancaster, cewek 16 tahun pengidap kanker, dinyatakan sembuh setelah proses pengobatan yang panjang dan melelahkan. Sayang, paru-parunya terlanjur rusak karena penyebaran kanker. Dia tidak bisa lagi melakukan aktifitas sehari-hari layaknya seorang remaja; sekolah, hang out bareng temen, atau berolahraga. Boro-boro bisa petakilan, naik turun tangga aja ngos-ngosan. Hazel butuh pasokan oksigen ekstra dari selang dan tangki oksigen, yang dibawanya setiap saat. Selain itu, dia harus kontrol rutin ke dokter untuk mengecek kalau-kalau kanker itu tumbuh lagi. 

Hazel tidak merasa menang walau berhasil bertahan melawan kanker. Kehidupan lamanya tidak akan kembali. Dengan tubuh kurus, wajah sembab akibat efek samping obat kemoterapi, paru-paru rongsok, dan tangki oksigen yang diseretnya kemana-mana, Hazel menyebut dirinya mirip mayat hidup. Syukurlah Hazel punya orangtua yang selalu menyemangati. Ibunya, yang gerah melihat Hazel depresi dan sering mengurung diri di rumah, memaksanya ikut pertemuan kelompok pendukung penderita kanker. 

Tujuannya, supaya Hazel bisa bertemu teman-teman senasib di sana dan ngga frustrasi lagi. Hazel akhirnya bersedia, walau ogah-ogahan. Dengan skeptis, Hazel menceritakan bagaimana anggota-anggota silih berganti. Selalu ada yang absen karena sakit parah atau mati. Topik pembicaraannya ngebosenin banget: kanker. Ya iyalah. Belum lagi, ada ritual mendoakan para anggota yang sudah meninggal duluan. Daftar nama yang dibacakan bertambah panjang setiap kalinya. Hazel bahkan bertanya-tanya, kapan giliran namanya masuk dalam daftar itu. 

Suatu hari, anggota baru yang bernama Augustus Waters, sepertinya naksir Hazel. Hazel grogi banget karena udah lama ngga pernah ditaksir cowok, dan ngga pede sama penampilan fisiknya. Apalagi, meski sebelah kaki Augustus diamputasi karena osteosarkoma, cowok ini tetap punya aura keren dan beda. Misalnya, dia punya kebiasaan menyelipkan sebatang rokok di bibirnya. Alasannya? 

"Rokok tidak akan membunuhmu, kecuali jika dinyalakan. Dan aku tidak pernah menyalakannya. Lihat, ini metafora: Kau meletakkan pembunuh itu persis di antara gigimu, tapi tidak memberinya kekuatan untuk melakukan pembunuhan." 

Hazel dan Augustus pun segera akrab, bahkan sampe bertukar novel favorit segala. Hazel meminjami Augustus buku kesayangannya, Kemalangan Luar Biasa. Buku itu berkisah tentang kehidupan Anna, seorang pengidap kanker. Hazel ngefans banget sama Peter Van Houten, penulisnya.

"Peter Van Houten adalah satu-satunya orang yang kukenal yang seakan (a) memahami bagaimana rasanya sekarat, dan (b) belum mati."

Ternyata Augustus jadi suka juga sama buku tersebut, dan asyik membahasnya bersama Hazel. Mereka penasaran karena akhir ceritanya menggantung, dan kesal karena setelah bertahun-tahun si penulis sama sekali tidak meluncurkan buku lanjutannya. Nah, kalo yang ini saya ngerti deh. Ending cerita yang ngga tuntas itu... menyebalkan! Hahaha. Hazel dan Augustus pun sibuk menebak-nebak akhir cerita Kemalangan Luar Biasa, dan bertekad untuk menuntut jawaban dari penulisnya sendiri andai bisa bertemu langsung dengan Peter Van Houten.
  
Kejutan! Setelah berusaha lumayan gigih, Augustus berhasil menghubungi sang penulis dan saling berkorespondensi lewat e-mail. Peter Van Houten mengundangnya dan Hazel untuk bertemu langsung di Amsterdam. Hazel sangat ingin pergi, meski nafasnya semakin sesak dan tubuhnya mulai sering didera nyeri. Hazel ketakutan kankernya kambuh. Tapi tekadnya sudah bulat untuk bertualang bersama Augustus dan bertemu langsung dengan penulis Kemalangan Luar Biasa, meski keadaan Hazel bisa bertambah parah kapan saja. 

Sayang, sesampainya di Amsterdam semua tidak berjalan sesuai harapan! Peter Van Houten ternyata luar biasa menyebalkan, dan Augustus punya rahasia besar yang akan diungkapnya pada Hazel. 

Saya sudah membaca buku ini beberapa kali, dan sama sekali belum bosan. Sungguh unik, persepsi hidup dan mati dari sudut pandang Hazel dan Augustus. Dua remaja sekarat yang terpaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Saya suka dialog-dialog mereka yang menggelitik dan kadang filosofis. 

Alih-alih banjir airmata, kedua tokoh ini justru mengajak kita untuk sesekali menertawakan kematian, dan menyambutnya bagai kunjungan seorang teman. Lihat saja gaya Hazel menceritakan perjalanan penyakitnya pada Augustus.

"Aku didiagnosis kanker tiroid stadium IV ketika berusia 13 tahun." (Tidak kukatakan kalau diagnosis itu muncul tiga bulan setelah menstruasi pertamaku. Seakan: Selamat! Kau seorang perempuan. Sekarang matilah.)

Cuek abis kan?

Namun tidak bisa dipungkiri, siapa sih yang mau mati muda?? Begitu pula Augustus, yang takut dirinya akan segera dilupakan oleh dunia begitu dia meninggal nanti. Dia jadi terobsesi untuk meninggalkan "tanda" berupa kenangan yang berkesan bagi orang lain. 

"Kita menyerupai sekumpulan anjing yang mengencingi hidran air, menandai segala sesuatunya sebagai MILIKKU dalam upaya konyol untuk bertahan hidup dari kematian. Aku tahu itu konyol dan tak berguna, tapi aku hewan, sama seperti siapa pun lainnya." 

Kisah bertema cancer survival ini punya banyak dialog dan narasi mengharukan yang bisa bikin mewek. Tapi di sisi lain, ada pelajaran yang bisa diambil. Bahwa hidup itu berharga dan layak diperjuangkan. Bahwa kematian itu menakutkan, tapi tak terelakkan. Hal terbaik yang bisa kita lakukan di dunia adalah, live our life to the fullest, and embrace death like an old friend! 

4 komentar:

  1. Keren resensinya

    BalasHapus
  2. Saran dariku, coba deh bikin resensi buku ttg kite runner. Pasti keren. :)

    BalasHapus
  3. Wah kenapa harus pake ID anonim ya.. kan saya jadi ngga bisa berkunjung balik ke blogmu. Thanks udah baca resensi saya. The Kite Runner itu salah satu buku favorit saya sepanjang masa lho. Oke nanti dibikin resensinya :)

    BalasHapus
  4. Wah kenapa harus pake ID anonim ya.. kan saya jadi ngga bisa berkunjung balik ke blogmu. Thanks udah baca resensi saya. The Kite Runner itu salah satu buku favorit saya sepanjang masa lho. Oke nanti dibikin resensinya :)

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya :)