Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Jumat, 20 Maret 2015

Harapan dan Kenyataan


Tiga tahun lalu, saya pernah menulis resolusi awal tahun di blog ini. Saya mendefinisikan "resolusi" sesuka saya aja, hehe, yaitu "harapan; impian; sesuatu yang hendak dicapai". Sebetulnya, saya sama sekali bukan orang yang suka berbagi impian pada orang lain. Kalau bukan karena sebuah giveaway yang saya ikuti waktu itu (diadakan oleh seorang teman blogger), mungkin saya hanya akan menyimpannya sendiri seperti yang sudah-sudah. Atau paling banter menulisnya di buku harian pribadi. :)

Waktu itu saya menulis tiga harapan yang hendak dicapai: (1) memperoleh buah hati, yang sudah kami tunggu kehadirannya sejak menikah tahun 2010 silam, (2) bisa konsisten menulis, entah itu di blog atau menelurkan buku (ayam kali ah bertelur), serta (3) melanjutkan sekolah.

Ada yang tercapai, ada yang tidak. 

Jujur, kadang saya sedih kalau ingat sama harapan-harapan yang belum juga terkabul, padahal sudah berupaya maksimal, sudah berdoa sepasrah-pasrahnya. Tapi kalau saya ingat-ingat lagi sampai jauh ke masa lampau, ternyata sudah banyak sekali harapan saya yang menjadi kenyataan. Bahkan ada hal-hal yang hanya berani saya harap di dalam hati (karena waktu itu terasa mustahil untuk terwujud), nyatanya bisa terwujud beneran.

Salah satunya, bisa sekolah lagi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dulu mah kayaknya jauuuh banget perjalanan menuju ke sana, karena faktor biaya, juga karena dulu saya harus memprioritaskan beberapa hal lain. Saya sangat bersyukur harapan saya yang satu ini akhirnya kesampean. Mulai awal tahun ini saya resmi kembali berstatus sebagai mahasiswi. Eaaaa... :D  

Lagi-lagi, saya tak punya alasan untuk mengeluh sama Tuhan. Malu untuk ngambek karena Dia belum juga mengabulkan beberapa harapan. Gimana mau ngambek kalau Dia sudah begitu baik sama saya? 

Mungkin, Tuhan menunda mengabulkan sebagian harapan saya, karena Dia sudah berencana untuk mengabulkan harapan saya yang lainnya. Yang paling tahu gimana urutan adegan yang paling baik, ya pasti Sang Penulis Skenario Takdir kan?

Jadi, ini yang harus saya ingat selalu:

"Jangan karena satu harapan yang belum terkabul, lantas saya jadi lupa bersyukur pada-Nya atas semua harapan yang sudah Tuhan kabulkan untuk saya selama ini!"

 

10 komentar:

  1. Setuju mak, pertahankan semangat ya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaallah mak Lusiii. Makasih mak ^_^

      Hapus
  2. Wahh selamat yaa, S2 atau S3 nih, Mak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalo S3 mah masih jauh mak. Hehe.. tapi gpp saya aminkan! Makasih mbak Mimi

      Hapus
  3. quotenya mengingatkan diri saya yang kadang kurang bersyukur. makasi mak diingatkan kembali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mak Agustina. Sy jg nulis ini buat ngejewer kuping sendiri :D

      Hapus
  4. setuju banget mak quotenya, Allah lebih tahu yang kita butuhkan,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak. Kita manusia mah apa atuhh...

      Hapus
  5. suka banget sama quotenya,makasih ya mak sudah diingatkan^^
    salam kenal^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama yaa.. salam kenal kembali

      Hapus

Terima kasih untuk komentarnya :)