Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Selasa, 19 Januari 2016

[Book Review] Love Sparks in Korea



Judul         :  Love Sparks in Korea
Pengarang : Asma Nadia
Penerbit     : Asma Nadia Publishing House
Tebal          : 380 halaman

Rania adalah penulis yang juga pecinta travelling. Baginya, menjelajah ke negeri-negeri yang jauh adalah cara untuk menelusuri jejak-jejak cinta Allah yang terhampar di bumi. Sekian lama terbang dari satu tempat ke tempat lain, keluarga mulai membujuk Rania untuk memikirkan soal pendamping hidup. Tempat hatinya pulang. Bukankah sudah saatnya?

Di tanah air, ada Ilhan, seorang teman lama yang diam-diam selalu memikirkannya dari kejauhan. Bahkan, lelaki ini bersedia menaklukkan ketakutan terbesarnya demi meraih Rania.

Di sisi lain, takdir mempertemukan Rania dengan Hyun Geun. Penjelajah yang memandang dunia dari balik lensa kameranya hanya dengan dua warna: hitam-putih.

Tapi Rania menyimpan satu beban yang dipikulnya sendiri. Rahasia yang mungkin akan membuat lelaki mana pun berpaling menjauhinya.

*

Rania kecil tidak pernah menyangka suatu hari dia akan jadi penulis best seller yang bisa menjelajah ke berbagai negara di dunia. Tubuhnya ringkih karena didera macam-macam penyakit, dan dia bukanlah anak orang berada.

Rania dan keluarganya tinggal di samping rel kereta api di Jakarta. Meski tidak hidup berkelimpahan harta, ia dan kedua saudara kandungnya, Tia dan Eron menikmati masa kecil sepenuh-penuhnya.

Papa justru sering menyemangati anak-anaknya untuk punya impian setinggi mungkin, terutama Rania kecil yang sering sakit-sakitan. 

Kemana kereta yang baru melintas akan pergi?

Menuju negeri dengan seribu kisah. Suatu hari, satu dari banyak kereta itu akan menerbangkanmu ke negeri itu.

Maka Rania bermimpi ingin berada dalam kereta api dan berpetualang ke tempat-tempat yang jauh, bukan cuma duduk dan memandangi kereta lewat di depan rumahnya tiap hari. Keinginan itu makin kuat ketika Papa menceritakan tentang Muhammad Ibnu Battutah, penjelajah legendaris di masa lampau jauh sebelum Colombus dan Vasco de Gama mulai berlayar.

Perlahan, kehidupan keluarga Rania membaik. Kedua kakaknya mulai mapan dan berumah tangga. Sedangkan Rania, lewat kecintaannya yang lain, yaitu menulis, akhirnya mulai dapat mewujudkan impian travelling. Buku-buku besutan Rania laris terjual, membawanya pada berbagai acara kepenulisan di dunia. Membawanya pada bahasa, budaya, dan warna yang berbeda-beda.

Travelling, it leaves you speechless, then turns you into a storyteller. -Ibnu Battutah-

Membaca bagian cerita tentang keluarga Rania, saya langsung mengenalinya sebagai kisah hidup Asma Nadia sendiri. Semasa kecil, Asma Nadia tinggal di rumah samping rel kereta kawasan Gunung Sahari. Tokoh Papa, Mama, Tia dan Eron pun memang benar-benar adalah keluarga Asma di kehidupan nyata. Ngg, apakah tokoh Ilhan dan Hyeun Geun juga nyata? Entahlah :)  

Buku ini menurut saya seperti gado-gado yang beragam isinya. Ya tentang keluarga, ya motivasi, ya perjuangan mengejar cita-cita, ya cinta, semua ada di sini. Enaknya lagi, Asma Nadia menambahkan ramuan bumbu lalu mengaduknya baik-baik sehingga terasa pas. Tidak ada eksploitasi air mata yang berlebihan, misalnya, ketika membahas masa kecil Rania atau masalah KDRT dalam keluarga Hyun Geun. Tidak juga ada obral kalimat gombal berbunga-bunga dalam adegan-adegan manis di dalam cerita. 

Saya suka membaca perjalanan hidup Rania dari nol sampai menjadi sosok penulis terkenal, karena di sini kita bisa tahu bahwa orang itu ngga tiba-tiba sukses, melainkan butuh proses. Para penggemar Rania mungkin cuma melihat Rania saat dia sudah tiba di "puncak" lalu berkata, "Enak ya jadi seperti dia," tanpa tahu beratnya jerih payah Rania untuk mendaki dari lembah ke puncak itu. 

Kesuksesan juga tak lepas dari cinta dan support orang-orang di sekitar kita, sebagaimana Papa Rania selalu mengajarkan pada putrerinya untuk ngga ragu-ragu mengejar mimpi. Coba kalau Rania kecil selalu dibisikin, "Ngga usah kepingin yang aneh-aneh deh, buat kita makan sehari-hari saja susah!" oleh Papa... Apa jadinya dia? :) 

Selain itu, suka duka travelling yang banyak dikupas juga menjadi poin lebih novel Love Sparks in Korea. Ini juga tentunya berdasarkan pengalaman Asma Nadia sendiri yang sudah malang melintang ke berbagai negara ber-solo travelling

Menjelajah dunia dengan berhijab, menampilkan identitas sebagai muslimah, memang bisa jadi tantangan tersendiri. Mulai dari diliatin orang ketika sholat di tempat umum, ditanya macam-macam soal terorisme dan poligami, selektif mencari makanan yang halal di antara restoran-restoran yang menyuguhkan babi dan alkohol, sampai kecopetan di negeri asing.

Satu-satunya hal yang terasa mengganggu adalah iklan produk yang diselipkan dalam dialog di sana-sini. Mungkinkah harus dimaklumi, karena merk-merk tersebut adalah sponsor bagi pembuatan film (Yup, beberapa bulan lagi versi film dari Love Sparks in Korea bakal tayang di bioskop)? Tapi aneh aja sih, masak Rania sampai membahas soal kosmetik merk anu dengan Hyun Geun? Tokoh cowok yang selalu dideskripsikan cuek pada penampilan, dan hampir selalu tampil kumisan-berewokan dengan kemeja yang ngga pernah dimasukkan ke celana? Puhleeeasee! 

Romansa antara Rania dan dua lelaki di sekelilingnya, seperti yang saya singgung tadi, memang tidaklah bertabur narasi atau dialog yang berbunga-bunga. Tapi cara Asma merangkai kata, membuat buku ini tetap punya banyak kalimat yang "dalem" dan quotable banget. 

Tinggal bersama angin, atau terbang ditemani rembulan?

Kau bisa bersembunyi dari pandanganku, tapi tak bisa dari pikiranku.

Kematian adalah puncak. Tuntasnya kerinduan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Dan, hmm, dialog kesukaan saya yang satu ini.

"Apakah setelah menikah nanti saya harus menyatakan cinta setiap hari?"

"Seumur hidup suami saya cukup sekali saja mengatakan cinta. Sekali menjelang tidur dan sekali saat saya bangun tidur."

*
  



10 komentar:

  1. Ini buku yg difilmkan yg rencananya ada Morgan mantan Smash itu ya mbak?
    nice book, tp blm baca hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. betuul :) filmnya tayang April nanti

      Hapus
  2. berarti kurang lebih berbeda dengan buku tema korea lain yang lebih sweet gitu ya mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. sweet tidak harus gombal melulu kan yaa.. kalo yang ini sweet-nya lebih dalem menurutku, hehehe

      Hapus
  3. Penasaran banget ini sama filmnya. Secara mulai suka Morgan sejak melihatnya di film Assalamualaikum Beijing :) Can't wait April

    BalasHapus
  4. Sekarang lagi trend segala hal tentang Korea, ya :)

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya :)