Sudah baca cerita-cerita sebelumnya? Ini dia: Kenalan, Yuk!
Lantas, siapa?
Di ruang gawat darurat itu, mereka
memasangkan berbagai alat, menusukkan jarum infus dan obat-obatan ke tubuh
Kakek yang sekarat.
“Ayo, bertahanlah—beri dia atrofin sulfat 1 ampul lagi! Ayolah,
berdenyutlah lebih cepat...”
“Dok, lihat! VT1!” Seorang perawat berseru sambil menatap horor layar
monitor di sisi Kakek, yang memperlihatkan gelombang-gelombang tajam yang tak
kupahami. Apapun itu, pasti gawat, karena dokter itu semakin ganas menembakkan
rentetan perintah.
“Sialan! Siapkan defibrilator2!! Beri aku 200
joule!”
Aku tahu mereka profesional dan
berusaha menolong Kakek, tapi tanpa sadar aku menekap mulutku saat dokter
menempelkan dua bilah alat logam di dada telanjang Kakek, membuat dada itu tersentak.
Berulang kali.
“Naikkan! 360 joule!!”
Ibu memekik ngeri di pelukan
Ayah, membuat mereka tersadar bahwa kami masih di sini, menyaksikan...
Mereka buru-buru menyuruh kami
menunggu di ruang tunggu. Saran bagus.
Kami duduk tegak di sofa kulit
sintetis di ruang tunggu, terlalu stres untuk sekedar menyandarkan punggung. Aroma
lembut pengharum ruangan menyelinap ke penciumanku. Tetap saja, itu tak mampu
melenyapkan sepenuhnya bau khas rumah sakit yang menggelisahkan.
Tak jauh dari kami, ada meja
berisi setumpuk majalah lama dan beberapa eksemplar surat kabar. Di ruangan hanya
ada beberapa orang saja. Tampang mereka sama tegangnya dengan kami. Di sudut,
seorang perempuan mengisi gelas kertasnya dengan kopi panas dari vending machine, tapi hanya meneguknya
sekali, sambil menangis.
Ibu menatap hampa layar televisi
plasma yang menampilkan acara reality
show, sambil bolak-balik melirik ke arah pintu ruang gawat darurat. Ayah
pamit keluar untuk merokok, kebiasaan buruk yang telah lama dia tinggalkan. Aku
sendiri tak bisa berhenti mengetuk-ngetukkan tumitku ke lantai marmer.
Rumah sakit, semewah apapun, tak akan
bisa membuatmu merasa benar-benar nyaman. Atau aman dari rasa kehilangan.
Memang banyak yang bahagia saat meninggalkan rumah sakit. Pulang dalam keadaan
sembuh, atau menimang bayi yang baru lahir.
Tapi tak bisa dipungkiri, selalu
ada peristiwa sedih di tempat seperti ini.
Sebagian orang mendapat vonis
penyakit mematikan. Sebagian lagi harus menggadaikan segala harta bendanya agar
bisa bertahan hidup lebih lama dengan cuci darah, atau kemoterapi. Sisanya
harus menyerah pada kematian dan hanya menyisakan duka bagi orang-orang yang
mencintainya.
“Keluarga Tuan Bahtiar ditunggu
di UGD segera!” panggilan merdu itu berasal dari pengeras suara. Ibu dan aku terlonjak
dari sofa, bergegas ke ruang gawat darurat disusul Ayah.
Bermacam dugaan menyesaki
benakku. Apa Kakek selamat? Apa kondisinya terlalu parah? Atau...
“Kondisinya belum stabil, dia tetap
harus dipantau intensif di ruang ICU,” sang dokter berbicara. Kali ini, ia
tampak lebih lunak dan berempati. Mungkin tadi keadaan memaksanya untuk
bersikap begitu garang.
“Boleh dijenguk, Dok?” kata Ibu.
“Tuan Bahtiar belum sadar. Kami
akan memindahkannya ke ICU, dan keluarga bisa menemuinya nanti pada jam besuk.
Maaf..”
“Tak apa, Dok.. Terima kasih
banyak,” kata Ayah.
Pukul tujuh pagi, aku pulang.
Sendirian. Ibu menunggui Kakek di rumah sakit, sementara Ayah masih disibukkan
dengan urusan administratif perawatan Kakek. Aku kembali ke rumah untuk mengambilkan
pakaian ganti untuk Kakek dan Ibu.
Aku berusaha menenangkan diri,
bahwa semua akan baik-baik saja. Aku berkali-kali berbisik, mencoba meyakinkan
diriku sendiri.
“Kakek masih hidup. Dia akan
bertahan..”
Aku masuk ke kamar orangtuaku,
menarik travel bag pertama yang bisa
kutemukan di dasar lemari, dan mulai memasukkan pakaian-pakaian Ibu ke dalamnya,
lalu berpindah ke kamar Kakek. Aku sedang memilah pakaian-pakaian dan
menjejalkannya ke travel bag ketika menemukan
robekan kertas usang itu, terlipat di antara tumpukan pakaian.
Apa ini?
‘My dearest B,’ aku
mengernyit pada tulisan tangan bersambung yang indah itu.
B? Bahtiar...?
Aku terus membaca.
‘Kamu bilang, akan menamai bayi perempuan itu Nalini Sarisha. Dua kata
Sansekerta yang berarti cantik dan mengagumkan. Aku bilang, kalau yang lahir bayi
laki-laki, akan kuberi dia nama Abimanyu Prasetya. Seperti nama putera Arjuna,
yang artinya pemberani. Prasetya artinya janji. Aku ingin bayi ini kelak
menjadi lelaki yang berani memegang janjinya.’
Aku tak tahu kalimat selanjutnya,
sebab di situlah letak robekannya berada. Surat ini begitu dalam dan romantis... Seperti
penyambung dua hati yang terpisahkan oleh jarak jauh.
Apakah ini ditulis oleh almarhum
Nenek? Tapi dari ketiga anak Kakek dan Nenek, tak ada satupun yang bernama
Nalini Sarisha atau Abimanyu Prasetya. Apakah mereka berubah pikiran, lalu memilih
nama-nama lain untuk paman dan tanteku?
Tunggu.
Kubaca ulang potongan surat itu
dengan cepat, seolah mencari kata kunci. Tanpa sadar, tanganku yang lain merogoh
saku jaket dan menyentuh secarik kertas. Kertas yang dini hari tadi jatuh dari
genggaman Kakek. Yang ditulisinya sebuah nama.
Abimanyu Prasetya.
Aku merasa yakin, penerima surat yang berinisial B itu memang Kakek. Dan entah kenapa, perasaanku mengatakan bahwa pengirim surat cinta ini bukan Nenek.
Lantas, siapa?
*
- VT : Kependekan dari ventricular tachycardia, sejenis aritmia atau gangguan irama jantung berbahaya di mana bilik jantung berdenyut terlalu cepat sehingga tidak adekuat untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
- Defibrilator : Alat kejut jantung yang digunakan untuk mengatasi beberapa jenis aritmia berbahaya, bekerja dengan cara mengalirkan energi listrik (dalam dosis tertentu) ke jantung untuk merangsangnya kembali berdenyut normal dan teratur.
semakin penasaran.. :D
BalasHapus:D lanjut nih?
Hapus#ambil camilan, lesehan di tiker
BalasHapuslanjut mbaaaaaaaaa
ehem. bagi camilannya dong... hehehe
Hapus