Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Senin, 14 Januari 2013

Pukul Dua Dini Hari

Sudah baca cerita sebelumnya? Ini dia: Kenalan, Yuk!



Suara itu membuatku terjaga. Dentang pertama terdengar seperti lolongan kesepian. Aku menunggu dalam kegelapan sampai bunyi itu menghilang, lalu disusul dentang kedua yang sama muramnya. Jam antik itu sudah berdiri tegak di tempatnya sejak dulu kala. Bisa jadi usianya lebih tua dariku, sebab aku tak pernah menjumpai jam semacam itu lagi di rumah orang lain ataupun di toko.

Waktu masih kecil, aku pernah berdiri lama sekali di depan benda kokoh itu. Aku mengamati jarum-jarumnya yang tak pernah berhenti berputar. Kupandangi bandulnya, yang serupa gelang perunggu raksasa, berayun ke kiri dan ke kanan. Aku penasaran kapan jarum-jarum dan bandul jam itu akan berhenti bergerak karena lelah.

“Tiara, kamu tahu? Kita, manusia, adalah makhluk ceroboh yang menyebalkan,” tiba-tiba aku teringat ucapan Kakek di masa lampau, saat dia memergokiku terpaku di depan jam antiknya.

“Menyebalkan? Kenapa, Kek?”

“Kita menghamburkan waktu untuk melakukan hal-hal tak berguna, dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Lalu kita menyesali semua itu, merengek dan bersumpah akan memperbaiki hidup kita, jika saja waktu bersedia berputar kembali ke masa lalu.”

Waktu itu, aku menatap Kakek dengan kagum meski tak memahami maksudnya. Pokoknya kata-kata Kakek terdengar bijak dan penting.

“Jam antik inilah yang setia berdentang setiap jamnya untuk mengingatkan manusia bahwa waktu itu berharga. Bahwa tak ada gunanya menyesali masa lalu, karena semakin kita sibuk bernostalgia, semakin banyak waktu yang akan terbuang sia-sia.”

Lalu, Kakek bilang hari itu terlalu cerah untuk dilewatkan dengan memelototi sebuah jam.

Sepasang mataku ingin mengatup lagi, tapi rasa haus di kerongkongan memaksaku menyibakkan selimut dan menjejakkan kaki di lantai. Aku berjingkat meninggalkan kamar, merasakan tekstur bilah-bilah kayu yang lentur dan sedikit berkeriut di bawah kakiku.

Aku berjalan di koridor, mengerjapkan mataku. Berusaha mengenali benda-benda di sekitarku hanya dengan bantuan cahaya bulan dari jendela. Di ruang tengah, tampak seonggok kain jatuh di samping sofa. Mungkin Kakek tak ingat sudah menjatuhkan selimutnya di sana. Aku bermaksud memungut kain itu, tapi sesuatu membuat napasku tercekat.

Di balik sofa, baru tampak olehku, onggokan selimut yang berantakan menutupi sesosok tubuh tertelungkup. Sebuah kursi roda dan tabung terguling di dekatnya. Refleks kutekan tombol lampu di dinding dekat sofa. Ruangan itu mendadak terang-benderang, memperlihatkan lebih nyata lagi kengerian di depanku.

“Kakek? Kakek? Kakek?! Kakek!!”

Yang kuingat berikutnya adalah, aku terjatuh di atas lututku, mengguncang-guncang tubuh ringkihnya perlahan. Panik melandaku saat kusadari betapa dingin kulitnya di telapak tanganku. Dengan gugup kupasangkan lagi selang oksigen yang mendesiskan udara ke hidungnya, tapi ternyata dia tak bernapas. Gemetar, kuraba pergelangan tangannya. Harapan mulai merayap di benakku saat kutemukan denyut-denyut nadinya. Lemah. Tapi ada. Kakek masih hidup!

Aku meneriakkan namanya sekeras mungkin, berulang-ulang. Aku berharap itu akan membangunkannya, tapi sia-sia.

Ruangan gaduh karena semua penghuni rumah terbangun dan keluar dari kamar mereka. Ibu memekik dan menangis, tapi Ayah masih cukup sadar untuk berseru, “Panggil ambulans!”

Aku mendahului Ayah menuju pesawat telepon di meja dekat sofa, dan tertegun. Gagang telepon terayun pelan dalam posisi menggantung. Sementara di bawahnya, sebelah tangan Kakek terjulur seolah hendak menggapai gagang telepon itu.

Mungkinkah Kakek terbangun karena rasa sakit? Merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya, lalu menghela dirinya ke atas kursi roda dan berusaha menelepon bantuan medis, namun gagal? Aku tak punya waktu untuk menebak-nebak. Jemariku bergerak hendak menekan nomor panggilan darurat medis, tapi ada yang aneh dengan gagang telepon itu. Ada suara kemeresak, dan samar terdengar suara hembusan napas seseorang, entah siapa.

“Halo? Halo? Siapa ini?”  

Hening. Hening yang canggung, seolah seseorang di ujung sana sedang ragu, menimbang-nimbang apakah dia harus menjawab atau tidak.  

“Siapa ini??” nadaku tajam, nyaris menuduh.

Klik!

Sambungan terputus.

“Tiara! Sudah telepon ambulans?” Ibu mengingatkanku. Masih dengan rambut berantakan, Ayah berlari memegang serenteng kunci, membuka pintu depan.

Kutekan nomor darurat itu. Cuma nada sibuk yang menyambutku. Kutekan lagi. Lagi, dan lagi. Sibuk.

“Kita menghamburkan waktu untuk hal-hal tak berguna...”

Waktu.

Kubanting gagang telepon itu, lalu berseru, “Tak ada waktu lagi, Yah! Kita bawa Kakek ke rumah sakit!”

Ibu berlari untuk menyalakan mesin mobil kami dan membuka gerbang.  Ayah tergesa menggendong tubuh Kakek. Saat itulah segumpal kertas melayang dari genggaman tangan Kakek, mendarat di kakiku.

Aku memungutnya, meluruskannya hingga tampaklah sebaris huruf sambung yang ditulis dengan tangan bergetar.

Abimanyu Prasetya

Siapa dia?

Pandanganku tertambat pada pesawat telepon di atas meja. Benda itu mengingatkanku pada suara kemeresak dan napas manusia yang kudengar tadi.

Aku punya firasat.

Siapapun orang itu, dia mungkin tahu siapa Abimanyu Prasetya.

*

6 komentar:

  1. aduhh jd abimanyu syp mba... hihhihihi penasaran ini,,, :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. kasih tahu ngga, yaaa... :3 *ngikir kuku* *ditimpuk jam antik*

      Hapus
  2. iyaaa anak mana tuh abimanyu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan a guy next door deh pokoknya... hehehe

      Hapus
  3. Penasaraann.. :D


    *baca lanjutannya :)

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya :)