Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Selasa, 15 Januari 2013

Orang Ketiga Pertama

Sudah baca cerita sebelumnya? Ini dia: Pukul Dua Dini Hari



My dearest B,

‘Kita.’

Kata itu selalu menjelma warna-warni pelangi di benakku. Ya, sejak kau meminangku dengan cincin itu. Hari itu satu tahun sebelum hari pernikahan yang kita rencanakan.

‘Kita.’

Ah, kata itu muncul lagi. Tidakkah itu empat aksara yang luar biasa? Huruf-huruf yang mampu meleburkan dua jiwa berbeda, aku dan kamu, menjadi satu.

Lebih dari hari-hari sebelumnya, kita makin tak terpisahkan. Bercanda, berkasih mesra, bertengkar. Bersamamu, semuanya indah. Pelan-pelan, kita memintal benang mimpi. Helai demi helai.

Kamu bilang, akan memperkenalkanku pada ayahmu, lalu meminta beliau untuk mempersuntingku untukmu, secara resmi. Aku bilang, kalau tak ingin pinanganmu ditolak, kamu mesti mencukur rapi rambut gondrong kesayanganmu sebelum datang ke rumah orangtuaku.

Kamu bilang, aku akan terlihat sangat cantik di pesta nanti, bahkan saat menitikkan airmata haru. Aku bilang, saat ikrar perkawinan kamu akan lupa mesti berkata apa, saking gugupnya, dan terpaksa melirik secarik kertas mungil berisi contekan kalimat mahapenting itu.

Kamu bilang, ingin punya sebanyak mungkin anak-anak yang lucu dariku. Aku bilang, bagaimana kalau satu saja dulu.

Aku dan kamu bersenandung harap, semoga suatu hari nanti Tuhan kirimkan hadiah terindah itu.

Kamu bilang, akan menamai bayi perempuan itu Nalini Sarisha. Dua kata Sansekerta yang berarti cantik dan mengagumkan. Aku bilang, kalau yang lahir bayi laki-laki, akan kuberi dia nama Abimanyu Prasetya. Ya, Abimanyu, seperti nama putera Arjuna, yang artinya pemberani. Prasetya artinya janji. Aku ingin bayi ini kelak menjadi lelaki yang berani memegang janjinya.

‘Kita.’

Siapa sangka, kata itu bukan untuk selamanya.

‘Kita.’

Bagiku, kata itu tak lagi berpelangi. Kita terurai paksa, kembali menjadi aku dan kamu yang asing satu sama lain. Pintalan mimpi kita musnah, tiada. Sekedar istana pasir yang luluhlantak terhela ombak. Ombak itu berwujud seorang perempuan dari masa lalumu. Orang ketiga yang merampas ‘kita’ dariku.

Perempuan itu tersenyum menghiba dan putus asa. Dia bilang, enam bulan lagi bayi dalam rahimnya akan terlahir sebagai anak haram. Kecuali... jika ayah bayi itu mau bertanggungjawab dan menikahinya. Lelaki yang dia maksud, kamu.

Sejak itu, ‘kita’ bukan aku dan kamu yang menyatu.

Mulai detik itu, ‘kita’ adalah kamu dan dia.

*

9 komentar:

  1. lanjut mbaaa
    #setia menanti kelanjutannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiip *nyeker-nyeker tanah, cari inspirasi*

      Hapus
  2. seru! :)
    *duduk manis nunggu lanjutannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. *gelarin tiker buat Nath* : D

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. Duuh.. Rahasia besar kakek Bahtiar...

    BalasHapus
  4. Everybody has a secret... Incoming Grandpa B. *pasang mimik misterius* *ditujes-tujes*

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya :)