Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Senin, 06 Agustus 2012

Apapun Demi Sekeping Medali?





Dahi saya berkerut membaca sebuah berita olahraga berjudul Delapan Atlet Badminton, Termasuk Ganda Puteri Indonesia, Didiskualifikasi dari Olimpiade di situs VoA, Rabu, 1 Agustus 2012 lalu. Dalam berita disebutkan ada delapan atlet badminton puteri yang didiskualifikasi oleh Federasi Badminton Dunia (BWF) karena disinyalir telah berupaya kalah dalam pertandingan supaya di putaran berikutnya bisa bertemu dengan lawan yang lebih enteng, atau menghindar dari pertandingan melawan rekan senegaranya.

Delapan atlet itu adalah pasangan Yu Yang – Wang Xiaoli dari Cina, pasangan Ha Jung Eun – Kim Min Jung dan Ja Kyung Eun – Kim Ha-Na dari Korea Selatan, dan yang bikin saya kaget sekaligus kecewa... pasangan Greysia Polii – Meiliana Jauhari asal Indonesia!

Sebenarnya, saya bangga pada kontingen Indonesia yang maju ke ajang bergengsi kelas dunia ini, termasuk kontingen badminton, yang pertandingannya sebisa mungkin saya simak. Kalau nggak sempat nonton siarannya di televisi, ya paling nggak ngikutin beritanya, siapa melawan siapa, siapa yang kalah, dan siapa yang menang.

Salah satu alasan mengapa saya antusias dengan partisipasi Indonesia dalam Olimpiade London ini adalah, saya lagi jenuh-jenuhnya dengan berita-berita negatif semacam kasus korupsi, joki di ujian masuk perguruan tinggi, atau money politics dalam pilkada. Saya berharap bisa menemukan banyak teladan kejujuran dan fair play dari perjuangan kontingen Indonesia dalam Olimpiade ini. Makanya saya patah hati banget waktu pasangan ganda puteri kita didiskualifikasi karena penyebab yang mencoreng semangat sportivitas.

Masih ingat motto Olimpiade; Citius, Altius, Fortius? Ungkapan berbahasa Latin yang berarti Lebih cepat, Lebih tinggi, Lebih kuat ini seakan mengokohkan Olimpiade sebagai kancah pertandingan olahraga yang sangat kompetitif. Ya iyalah.. Tahun ini, jumlah negara pesertanya aja ada 204, dengan sekitar 10.500 atlet yang berlaga untuk memperebutkan medali lewat 26 cabang olahraga.

Singkat kata, hanya yang tercepat, tertinggi dan terkuat saja yang akan membawa pulang kemenangan. Persaingan yang berat dengan lawan-lawan tangguh dan beban untuk memperoleh kemenangan, mungkin juga jadi penyebab munculnya perbuatan-perbuatan yang tak sportif.

Yu Yang
Yu Yang, salah satu atlet badminton Cina yang kena diskualifikasi berkata bahwa ia memang sengaja mengambil keuntungan dari peraturan pertandingan untuk mengalah. Ia tidak bermain maksimal melawan pasangan Ja Kyung Eun – Kim Ha-Na dari Korea Selatan, karena cedera siku dan bermaksud menyimpan penampilan terbaiknya untuk lawan-lawan berikutnya. Sebaliknya, Yu Yang menganggap keputusan BWF tidak adil.

“Apa Anda tahu pemain juga bisa cedera? Kami bersiap selama empat tahun dan mengalami cedera, lalu Anda mendiskualifikasi kami. Tanpa ampun Anda menghancurkan mimpi kami.”

Pasangan ganda puteri Indonesia—Greysia Polii dan Meiliana Jauhari, juga kecewa dengan keputusan diskualifikasi BWF, dan tidak rela dituding sengaja bermain buruk dalam pertandingan melawan pasangan Korsel, Ha Jung Eun dan Kim Min Jung.

“Kami dilatih oleh senior-senior yang punya pengalaman mendunia. Kami siap kalah, tapi kami tidak siap dituduh curang,” ucap Meiliana.

Greysia Polii - Meiliana Jauhari
Susi Susanti, mantan atlet badminton nasional, punya opini tersendiri tentang insiden ini. Menurutnya, sistem yang diterapkan di Olimpiade 2012 kurang tepat. Pada ajang Olimpiade selama ini berlaku sistem gugur, di mana atlet yang kalah bakal langsung tersingkir. Sedangkan kali ini yang diterapkan adalah sistem grup, di mana atlet yang kalah masih punya kesempatan bermain di putaran selanjutnya. Ini memungkinkan atlet untuk pasang strategi tertentu dalam pertandingan.

Terlepas dari argumen-argumen di atas, Susi berharap insiden diskualifikasi ini menjadi pelajaran berharga untuk semua atlet di dunia. Para pemain harus siap menghadapi siapapun tanpa pilih-pilih lawan.

Bagaimanapun, kasus “sengaja mengalah” tempo hari ternyata bukan kecurangan pertama yang pernah terjadi sepanjang sejarah Olimpiade.

Dalam Olimpiade 1987, misalnya, Ben Johnson—sprinter asal Kanada yang dijuluki “Bentastic” karena berhasil memecahkan rekor lari 100 meter dalam waktu 9,79 detik, dilucuti medali emasnya karena terbukti sampel urinnya mengandung steroid Stanozolol. Steroid adalah obat yang sering digunakan secara ilegal oleh atlet sebagai doping atau penambah stamina.

Nancy Kerrigan—skater dari Amerika Serikat, sempat terluka beberapa bulan sebelum Olimpiade 1994 karena lututnya dipukuli oleh orang suruhan pesaingnya. Untungnya sih, cedera yang dialaminya tidak serius. Buktinya, Kerrigan tetap bisa bertanding, dan sukses pula merebut medali perak lho! Yeah, victory! ^.^v

Satu contoh lagi, yaitu jual-beli suara yang terjadi dalam Olimpiade 2002 di mana Marie-Reigne Le Gougne—seorang hakim pertandingan asal Perancis, mengaku bahwa ia telah disuap agar memberi suara pada pasangan skater Rusia, Elena Berezhnaya – Sikharulidze.

Meraih medali Olimpiade memang bukan pencapaian sembarangan. Pastinya, ini bakal mendongkrak pamor atlet beserta negara yang dibelanya. Tapi, apa iya kita harus menghalalkan segala cara untuk menjadi the fastest, the highest and the strongest? Apapun demi sekeping medali?

Apakah kemenangan adalah hal terpenting di dunia? 


Biar kredo Olimpiade ini yang menjawabnya:

“Hal terpenting dalam Olimpiade bukanlah untuk menang, tetapi untuk berpartisipasi.
Seperti juga hal yang paling penting dalam hidup bukanlah kemenangan, tetapi perjuangan.
Hal terpenting bukanlah karena bisa mengalahkan, namun karena telah berjuang dengan baik.”

(Baron Pierre de Coubertin)

*


Hasil ngulik-ngulik di sini:


6 komentar:

  1. keren euy postingannya. iya sempet gees lihat pertandingan kemarin. Yah mereka lah yang tau, alasan sebenarnya, pura-pura atau .....,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya win, wallahu a'lam deh..

      Hapus
  2. artikelnya sangat keras euy! top five!

    sistematik dan terstruktur.. :)
    tapi sepertinya pengaturan skor dengan sistem mengalah apakaha pernah terjadi sebelumnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. masa keras sih? perasaan saya nulis ngga pake semen h*lcim deh, hehe.. makasih ya udah mampir :D. maksudnya sistem mengalah gimana mas?

      Hapus
  3. sebenarnya kita harus bermain sebaik mungkin, kalah atau menang kita harus sportif. karena itu sebenarnya tujuannya menyambung silahturahmi....
    salam karimalamin.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, mas Karim. sayang banget kalo Olimpiade akhirnya melenceng jadi ajang banyak2an medali aja :(

      Hapus

Terima kasih untuk komentarnya :)