Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Rabu, 04 Februari 2015

Tren Film Indonesia Tahun 2015




Presentase film Indonesia yang sukses di pasaran masih jauh dari harapan. 
Tahun lalu, dari sekitar 120 judul film Indonesia yang tayang di bioskop, 
yang laris ditonton tak sampai sepuluh persennya.


Cintailah karya anak bangsa.

Jargon ini rupanya belum cukup untuk membuat film-film Indonesia menjadi raja di negeri sendiri. Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Djonny Syafruddin, mengatakan presentase film Indonesia yang sukses di pasaran masih jauh dari harapan. Tahun 2014 lalu, dari sekitar 120 judul film Indonesia yang wara-wiri di bioskop, yang laris manis ditonton tak sampai sepuluh persennya.

Kemungkinan penyebab film lokal kurang laris di bioskop adalah, maraknya alternatif hiburan film lainnya di televisi swasta, tv kabel, dan pembajakan film lewat DVD. Di samping itu, tak semua daerah di Indonesia memiliki bioskop. Film-film kita sulit menjangkau masyarakat di pelosok tanah air.

Kini, memang semakin banyak dibuka bioskop-bioskop baru di Indonesia. Sampai dengan Mei 2014, jumlah seluruh bioskop di Indonesia mencapai 211 bioskop. Sayang, distribusinya belum merata. Sekitar 60% bioskop berlokasi di pulau Jawa, itu pun lebih banyak berkembang di kota-kota besar saja, terutama di mall dan pusat perbelanjaan. 

Soal kualitas, dibandingkan film-film luar negeri, film Indonesia masih kalah dari segi ide cerita. Tema klise semacam cinta picisan dan horor bertabur artis berpakaian sensual yang sempat mendominasi dunia sinema tanah air, mungkin menjadi penyebab utama mengapa saya dan para penonton lainnya lebih memilih film impor ketimbang film lokal.  

Padahal, sebetulnya banyak tema lain yang bisa digali dari sejarah dan budaya Indonesia yang kaya ini, untuk dijadikan film. Semisal budaya tari ronggeng yang dikupas dalam Sang Penari, atau dinamika kehidupan ala pesantren di Negeri 5 Menara

Faktor lain mengapa film kita masih sepi peminat, mungkin soal riset. Entah kenapa pegiat sinema Indonesia seperti masih kurang serius melakukan riset, yang diperlukan demi akurasi cerita dalam film. 

Misalnya, Hafalan Shalat Delisa. Meski film tersebut berlatar di dekat pantai Lhok Nga, Aceh, budaya lokal seperti bahasa yang dipakai sehari-hari saja sama sekali tak muncul dalam dialog. Akibatnya, film ini gagal meyakinkan saya untuk percaya bahwa kisah Delisa terjadi di Aceh, bukan di kota-kota lainnya. 

Kabar gembira, beberapa tahun terakhir ini kualitas film kita membaik dengan munculnya film-film yang tidak semata menjual hiburan tapi juga nilai yang bisa diteladani. Contohnya, sebut saja Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, Tanah Air Beta yang bikin kita makin cinta negeri ini. Ini kemajuan yang baik. 

Film adaptasi buku populer
Bagaimana dengan tren film Indonesia tahun 2015? 

Dari beberapa artikel yang saya baca, tren film belum akan bergeser jauh dari tahun sebelumnya, yaitu film yang diadaptasi dari buku-buku laris. Film-film semacam ini cukup berhasil menarik banyak penonton, yaitu dari kalangan penggemar buku sekaligus penikmat film. 

Orang-orang yang puas setelah membaca suatu buku akan antusias untuk menonton filmnya agar bisa membandingkan versi mana yang lebih bagus. Sebaliknya, orang-orang yang belum membaca bukunya akan penasaran untuk menonton karena promosi "diangkat dari novel bestseller". Banyak dari mereka yang, karena terkesan dengan film tersebut, kemudian membeli bukunya. Hmm, jadi industri perfilman dan perbukuan sama-sama untung dong ya. :)

Ini terbukti dari seluruh film Indonesia yang beredar di bioskop tahun 2014, ternyata tujuh dari sepuluh film dengan perolehan jumlah penonton terbanyak merupakan hasil adaptasi dari buku. Ketujuh film tersebut adalah Haji Backpacker, Supernova, Assalamualaikum Beijing, 99 Cahaya di Langit Eropa part 2, Marmut Merah Jambu, Mimpi Sejuta Dolar, dan Hijrah Cinta. Film-film tersebut berhasil meraih ratusan ribu, bahkan lebih dari satu juta penonton. 

Dan, siapa sih yang bisa lupa sama Laskar Pelangi yang diproduksi tahun 2008? Film fenomenal yang berdasarkan novel karya Andrea Hirata ini tercatat sudah disaksikan 4,6 juta penonton. :D

Data dari filmindonesia.or.id
Selain film adaptasi buku, film religi diperkirakan juga masih menjadi tren di Indonesia, bahkan dalam beberapa tahun ke depan. Ini diungkapkan Eddy Iskandar, ketua Forum Film Bandung (FFB) dalam acara Pesta Buku 2015 di Bandung. Film-film religi yang diangkat dari novel bahkan mampu bersaing dengan film-film dari genre lain yang juga diadaptasi dari novel. 

Film religi yang saya maksud di sini bukan cuma film yang pemain-pemainnya berbusana muslim, atau yang dialognya penuh khotbah lho. Bukan berarti kedua hal itu ngga baik, hanya saja kita butuh lebih dari sekedar simbol agama, tapi juga hikmah yang bisa menyentuh hati saat menonton filmnya. 

Bagaimanapun, film religi cenderung disukai penonton kita karena lebih sesuai adat ketimuran dan lebih "aman" untuk ditonton bersama keluarga, termasuk anak-anak. Pesan-pesan kebaikan juga bisa tersampaikan secara implisit lewat adegan tokoh-tokohnya, tanpa harus terasa menggurui. 

Masih ingat dong sama film Ayat-ayat Cinta? Film yang sudah disaksikan 3,6 juta penonton ini menjadi pembuka popularitas film-film religi yang bermunculan setelahnya. Ada Ketika Cinta Bertasbih (3,1 juta penonton), Sang Pencerah (1,2 juta penonton), 99 Cahaya di Langit Eropa (1,1 juta penonton), dan lain-lain. Menyusul kemudian tahun 2014, ada 99 Cahaya di Langit Eropa part 2Hijrah Cinta, Assalamualaikum Beijing dan Haji Backpacker yang masuk daftar sepuluh film lokal terlaris.
   
Seiring perkembangan zaman, para penonton kita semakin kritis dalam memilih film. Agar bisa bersaing dengan film lainnya, lokal maupun impor, produsen film dituntut untuk menghasilkan tak sekedar tontonan menghibur, tapi juga yang bermutu. Dengan terus bertambahnya film-film bermutu karya anak bangsa, semoga suatu saat nanti film Indonesia akan berjaya di negeri sendiri.





Referensi:

33 komentar:

  1. Cocok dadi blogger film hehe

    BalasHapus
  2. film2 adaptasi dari buku memang biasanya lebih bagus karena sering terselip pesan moralnya, oh iya film religi juga sudah banyak peminatnya
    kyaknya penonton Indonesia makin cerdas kalo film yang inspiratif seperti laskar pelangi banyak diminati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Minat terhadap film bermutu makin tinggi.. semoga insan perfilman makin semangat jg bikin film-film bagus :)

      Hapus
  3. saya suka merry riana dan semoga film indonesia semakin jaya dan lebih melihat mutu dan kualitas ditahun 2015 ini :)

    BalasHapus
  4. Hehe.. ini sebenarnya menarik ulasannya.

    Mungkin saya saja yang terlalu sering ngikutin film jadi sudut pandang ini terlalu biasa.

    Semangat!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maklum Asmari, saya bukan pecinta film kelas berat seperti dirimu, hehe. Bagi2 dong rekomendasi film-film bagus lainnya apa aja :D

      Hapus
  5. sebenarnya saya seneng nonton film Indonesia tetapi jauh bioskopnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kang.. pindah Jakarta aja gimanah, hehehe

      Hapus
  6. Saya juga seneng banget kalau buku-buku bagus difilmin, tapi ya tergantung penulisnya juga sih. :D

    BalasHapus
  7. Makin banyak aja ya film Indonesia dari buku bestseller dan nama penulisnya jadi terangkat banget gitu trus mereka nantiin film selanjutnya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul.. tapi bener juga kata mbak Dini, liat2 dulu penulis bukunya siapa ;)

      Hapus
    2. Sip, yuk mari menunggu film-film selanjutnya :D

      Hapus
  8. kata kyai Zainudin MZ, hiburan bukan sekedar tontonan tapi juga menjadi tuntunan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, saya setuju sama pak kyai ^_^

      Hapus
  9. Keren ulasannya, aku masih kalah.dan cuma garis besarnya saja
    iya laskar pelangi tentang Lintang
    hmm ayat2 Cinta katanya bikin kecewa karena beda isi buku sama film
    cieh mba Ruri ma mas Asmari akrab banget, cieee

    @guru5seni8
    Http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Tya.. saya juga kecele berat sama versi film Ayat-ayat Cinta yang melenceng dari novelnya. Mungkin maksud pembuat filmnya ditambah bumbu biar lebih gurih tapi malah bikin eneg. -_-*

      Hapus
  10. Semoga akan ada tontonan yang menghibur dan berkualitas ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum film bermutu. Hehe kok jadi mlesetin judul film..

      Hapus
  11. Film laga pun tak akan kehilangan tajinya.

    @nuzululpunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya seneng aja sih pak sama film laga, tapi yg punya alur keren.. bukan yang sekedar berisi kekerasan & muncratan darah :D

      Hapus
  12. Cerita dari film Indonesia kadang nggak bagus yah, itulah mengapa para pembuat film mengambil cerita dari novel-novel best seller

    @rin_ mizsipoel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan lebih besar kemungkinan lakunya kalo ambil cerita dari novel yg udah ngetop

      Hapus
  13. setuju banget sama mbak ruri. Masyarakat kita sekarang sudah pandai-pandai, mereka menuntut lebih dari hanya sekedar film bagus.

    BalasHapus
  14. Karena saking penasarannya dengan Film AYat-ayat Cinta, saya bahkan beli versi novelnya ketika filmnya sdh turun dari bioskop. Maksudnya penasaran versi cerita di novel

    @ririekayan

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi bagusan versi mana nih mbak Ririe? :D

      Hapus
  15. Memang sepertinya film tema religi jauh dari harapan.Contohnya film Ayat-ayat Cinta yang ceritanya tak seperti yang ada dalam novelnya. Banyak yang dibelokkan sehingga alurnya menjadi tak menarik lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin ini salah satu resiko bikin film dari novel yah mbak Yuni, para penonton yg udah baca bukunya (apalagi penggemar fanatik) bisa2 kuciwa sama versi filmnya

      Hapus
  16. Diliat dari tulisannya, kayaknya paham banget soal film. Makasih untuk tulisan yg menurut saya banyak memberikan informasi ini :D

    @bahruladitya

    BalasHapus
  17. Film religi emang lagi naik daun nih

    BalasHapus
  18. Ulasan dengan sudut pandang yang bagus. Terbukti, box office movie Indonesia saat ini yang sudah mencapai jutaan penonton dari genre film religi dan adaptasi novel karya Asma Nadia, yang berjudul Surga Yang Tak Dirindukan.

    Kalau saya pribadi, sebagai penikmat film Indonesia lebih memilih menonton film Indonesia yang based on true story karena bisa menginspirasi*

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya :)