Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Jumat, 27 Februari 2015

Aku Diponegoro: Sebuah Napak Tilas Perjuangan



Apa saja yang kita ingat tentang Pangeran Diponegoro?

Jangan-jangan, kenangan kita tentang sosok pahlawan nasional ini hanya sebatas apa yang tercantum di buku pelajaran sejarah.

Padahal, kisah hidup Pangeran Diponegoro memiliki banyak sisi menarik. Pemikirannya, semangat perjuangannya, kini coba dihidupkan kembali dalam pameran karya seni bertajuk "Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa".

Bertempat di Galeri Nasional Indonesia, Jl. Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, pameran ini diselenggarakan atas kerjasama banyak pihak, antara lain Galeri Nasional Indonesia, Goethe-Institut Indonesien, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Erasmus Huis, dan Universitas Paramadina.

Sosialisasi pameran Aku Diponegoro lumayan gencar di dunia maya, baik melalui situs yang khusus dibuat untuk event pameran sendiri, maupun lewat media sosial seperti Twitter. Promosi via media digital tampaknya cukup efektif menjangkau para netizen muda. Biasanya event berbau sejarah seperti ini kurang diminati oleh para remaja, namun saya melihat banyak pengunjung yang berasal dari kalangan remaja. Mereka terlihat antusias menikmati berbagai objek yang dipamerkan.

Selain itu, agenda yang digelar tanggal 6 Februari - 8 Maret 2015 ini  juga punya beragam acara mulai dari pemutaran film, diskusi sejarah perang Diponegoro, sampai tur keliling galeri yang dipandu langsung oleh para kurator. Keren kan? Silakan simak jadwal lengkapnya di situs www.akudiponegoro.com.

Pameran memang berlangsung pukul 10.00 - 19.00 WIB, namun bila ingin leluasa berlama-lama mengamati objek pamer atau ingin berpose narsis di samping lukisan-lukisan keren, sebaiknya kamu berkunjung pada hari kerja, terutama sebelum waktu makan siang. Lokasi Galeri Nasional cukup strategis dan mudah dijangkau kok, tepatnya berada di seberang pintu masuk Stasiun Gambir, dekat dengan Tugu Monas.

Oiya, di sini, akan ada beberapa pemandu yang dengan senang hati menjelaskan pada kita tentang makna masing-masing karya seni, maupun tentang sejarah Pangeran Diponegoro. Para relawan pemandu ini adalah mahasiswa-mahasiswa Universitas Paramadina yang sebelumnya sudah dilatih untuk itu.

Sebelum masuk ke galeri, kita bisa mengisi buku tamu sekaligus menitipkan barang bawaan di counter resepsionis. Jangan kuatir, boleh kok membawa kamera ke dalam galeri, asalkan tidak menyalakan lampu blitz saat mengambil foto.

Di dalam ruang-ruang pamer, tersaji lukisan, instalasi seni, bahkan pernak-pernik keseharian seperti foto, cukil kayu, uang kertas, dan sebagainya, yang berhubungan dengan Pangeran Diponegoro. Instalasi seni berikut ini, misalnya, diberi judul Battle Field.

Battle Field
Karya seni kontemporer buatan seniman Entang Wiharso ini menggambarkan sifat-sifat buruk manusia yang sering menjadi pemicu peperangan; kelicikan, keserakahan, intoleransi. Bila diamati lebih dekat, penunggang berkuda tampak menggenggam sebilah pedang yang berbentuk seperti bulir-bulir padi. Simbol bahwa di masa kini, perang di Indonesia masih terus berlangsung. Tidak berupa perang fisik, melainkan perang melawan kemiskinan.

Lukisan yang menurut saya paling hilarious dalam pameran ini adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro. Sejarah mengisahkan bahwa Pangeran Diponegoro berhasil memimpin serangan-serangan gerilya yang membuat penjajah Belanda kalang kabut. Bak hantu, Sang Pangeran bisa muncul tiba-tiba, menyerbu bersama pasukannya. Setelah itu, mereka berkelit menghilang dengan lihai pula sehingga begitu sulit ditangkap.

Karena itulah Jenderal De Kock menyusun siasat licik. Melalui Kolonel Cleerens, Pangeran Diponegoro dibujuk untuk datang ke sebuah perundingan damai. Ternyata, di sana Pangeran justru ditangkap. Momen inilah yang kemudian diabadikan oleh seniman Raden Saleh dalam Penangkapan Pangeran Diponegoro.

Sebetulnya, lukisan ini dibuat sebagai "bantahan" atas karya Nicolaas Pieneman berjudul Penyerahan Diri Diponegoro, yang dilukis dua dekade sebelumnya. Memang sesungguhnya Sang Pangeran tidak pernah menyerahkan diri, melainkan dijebak dengan muslihat gencatan senjata.

Sayang sekali lukisan Raden Saleh ini termasuk koleksi pameran yang tidak boleh difoto. Hmm, memang ngga afdol juga sih kalau cuma lihat fotonya. Tidak ada yang bisa menggantikan sensasi kekaguman yang bakal kamu rasakan saat menikmati lukisan ini dari dekat. Silakan datang sendiri dan buktikan! ;)

Lukisan Pieneman: Penyerahan Diri Diponegoro 
Dua lukisan karya Pieneman dan Raden Saleh, meski bercerita tentang kejadian yang sama, menampilkan dua sudut pandang yang amat jauh berbeda. Saya akan ceritakan lebih jauh soal kedua lukisan ini dalam postingan tersendiri nanti. Tunggu aja yaa.

Di ruang pamer berikutnya, ada berbagai benda bertemakan Diponegoro, seperti foto, uang kertas 100 rupiah jadul, sampai fotokopi ijazah seorang lulusan perguruan tinggi keren--almamater saya tercinta, Universitas Diponegoro. Hehe. Di antara semua itu, yang berhasil bikin saya nyengir adalah sebuah amplifier merk Prince berlukiskan sosok Pangeran Diponegoro yang sedang mengacungkan jari ala salam rocker.

Diponego-rock!
Di galeri, terdapat satu ruang khusus yang ditata dengan penerangan redup dan suasana sunyi. Beberapa pusaka peninggalan Pangeran Diponegoro seperti tombak dan tongkat ziarah ditempatkan sedemikian rupa dengan taburan kuntum melati, membuat pengunjung semakin khidmat menapaktilasi perjalanan hidup pahlawan ini.

Salah satu bagian yang saya sukai yaitu dinding galeri berisi linimasa kehidupan Pangeran Diponegoro sejak lahir, berkiprah di medan tempur, tertangkap, bersama keluarga menjalani hidup puluhan tahun di sebuah pengasingan di Makassar, Sulawesi Selatan, hingga wafat di sana.

Mengutip sebuah larik puisi gubahan Chairil Anwar, Diponegoro:

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

Begitulah saya mengingat sosok Sang Pangeran.

Bagaimana dengan kamu?




2 komentar:

Terima kasih untuk komentarnya :)