Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Sabtu, 01 Desember 2012

Jangan Hakimi ODHA Lagi




Bertahun-tahun lalu, saat saya masih seorang co-asisten di fakultas kedokteran, saya selalu tertegun saat bertemu pasien dengan Human Immunodefficiency Virus/Acquired Immuno Defficiency Syndrome (HIV/AIDS). Sebagian dari mereka masih segar bugar, dan rutin mengonsumsi obat antiretroviral. Sebagian lainnya tergolek lemah di ranjang rumah sakit, berusaha melawan ganasnya virus dengan sisa kekuatan yang mereka miliki.

Setiap kali berhadapan dengan mereka, saya tergelitik oleh satu pertanyaan: kok bisa sih mereka kena penyakit itu?

Seringkali saya menebak jawabannya. Kebanyakan hanya berupa tebakan penuh prasangka buruk.

"Lihat tuh, tatonya banyak banget. Pantesan terinfeksi HIV.”
"Astagahhh! Ada parut-parut bekas luka di pergelangan tangannya! Dasar pecandu narkoba.”
"Mbak itu bilang, dia tertular dari pacarnya. Lagian sih free sex segala. Ngga pake pengaman pula.”
 Saya sama sekali ngga sadar, bahwa dengan berpikir seperti itu, saya termasuk orang-orang picik yang menghakimi ODHA (Orang yang hidup Dengan HIV/AIDS) dengan stigma negatif. Yah, saya memang selalu mencoba melayani pasien ODHA sama seperti saya melayani pasien lainnya, tanpa diskriminasi. Kecuali tentang hal-hal tertentu, misalnya harus lebih hati-hati merawat ODHA supaya jangan sampai terkena infeksi nosokomial selama dirawat di rumah sakit (soalnya daya tahan tubuh pasien ODHA biasanya buruk). Tapi tetap saja, saya yakin mereka pasti pernah berbuat sesuatu yang buruk di masa lalu; satu kesalahan besar yang telah membawa penyakit itu ke dalam hidup mereka.

Sampai suatu hari, saya mengalami kecelakaan. Saat itu saya sedang bertugas sebagai dokter jaga di unit gawat darurat sebuah rumah sakit swasta. Malam itu melelahkan. Banyak pasien datang dan pergi. Salah satunya, seorang lelaki tua yang tiba dalam keadaan koma. Ia tampak sedikit ikterik (kuning). Menurut keluarga yang membawanya ke rumah sakit, dia ada penyakit sirosis hati. Kami memberikan pertolongan semaksimal mungkin saat itu juga, tapi lelaki itu akhirnya meninggal dunia di UGD. Dengan isak tangis, keluarga membawa pulang jasad lelaki itu. Saya baru saja berjalan hendak keluar dari ruangan itu ketika sesuatu menusuk kaki saya.

Benda itu adalah jarum yang tadi dipakai perawat saat memasang infus pasien lelaki tua. Entah bagaimana, mungkin jarum itu luput dari pengamatan, bergulir jatuh ke lantai lalu melukai saya. Lukanya sangat kecil dan hanya sesaat terasa sakit, tapi saat itu saya takut luar biasa! Pasien itu livernya berpenyakit. Bagaimana kalau dia juga ada hepatitis? Apa jadinya kalau dia punya HIV?? Atau entah penyakit apalagi yang mungkin saja bersarang dalam tubuhnya??

Saya terus berdoa pada Tuhan agar semua dugaan itu salah.

Beberapa bulan kemudian, saya menjalani pemeriksaan lab. Tidak ada hepatitis, apalagi HIV. Setahun sesudahnya, darah saya diperiksa kembali. Nihil. Saya sehat!

Alhamdulillah!! Saya ngga bisa berhenti bersyukur untuk ini!

Lalu saya terhenyak. Bagaimana jika pasien-pasien AIDS itu dulunya terinfeksi dengan cara seperti itu? Coba bayangkan seorang ibu rumah tangga baik-baik, terkena AIDS melalui suaminya yang habis ‘jajan’ dengan pekerja seks komersial di luar sana? Bayangkan bayi tanpa dosa, terlahir dengan HIV yang ditularkan ibunya. Atau, bayangkan seorang dokter yang sungguh-sungguh mengamalkan ilmunya demi kesembuhan pasien, secara tak sengaja terinfeksi HIV dari pasien yang ia tolong.

Mereka ini sama sekali bukan orang-orang brengsek. Kenapa justru mereka yang harus mengalami hal seburuk AIDS?

Saat itulah saya baru sadar, selama ini saya telah keliru menghakimi ODHA. Malu rasanya kalau ingat bahwa pikiran saya sama sempitnya dengan orang-orang yang menganggap HIV/AIDS sebagai kutukan, dan dengan demikian orang-orang yang kena kutuk harus dijauhi. “Pantaslah mereka kena penyakit itu. Itu hukuman dari Tuhan atas dosa-dosa mereka!”



Mata saya mulai terbuka. Terlepas dari apapun masa lalu mereka, banyak lho ODHA yang gigih dan punya tekad kuat untuk bertahan hidup. Mereka berhenti menyalahkan Tuhan atas apa yang sudah terjadi. Mereka berbuat, mulai dari rutin minum obat antiretroviral dan menjalani gaya hidup yang lebih sehat, bergabung dalam komunitas untuk saling memberi dukungan moral dan materiil satu sama lain, mendampingi teman-temannya ke rumah sakit untuk medical check up, hingga menggelar kampanye pencegahan AIDS tanpa lelah, untuk memperingatkan orang-orang tentang bahaya HIV/AIDS dan cara menghindarinya.

Salah satu cara berkampanye adalah melalui dunia maya. Dengan menyebar brosur kegiatan komunitas ODHA atau melakukan penyuluhan tentang pencegahan HIV/AIDS di tempat dan waktu tertentu, hanya sekelompok orang yang bisa terjangkau. Tapi bayangkan betapa banyak orang yang bisa membaca sebuah artikel blog di dunia maya? Dengan sekali posting saat prime time (jam-jam utama di mana orang-orang paling banyak berselancar di cyber world), sebuah artikel bisa dibaca oleh ribuan orang di seluruh dunia. Belum lagi jika orang-orang ini mempromosikan artikel yang baru dibacanya, lewat jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, e-mail dan sebagainya, bisa-bisa jumlah pembaca artikel bertambah puluhan kali lipat. Semakin banyak orang yang tercerahkan dong ya. J

Komunitas-komunitas peduli HIV/AIDS mulai menyadari pentingnya internet sebagai media edukasi masyarakat. Beberapa dari mereka membuat akun jejaring sosial, blog dan website untuk menyampaikan informasi yang benar tentang AIDS. Salah satu tujuannya, supaya masyarakat menghindari perilaku beresiko terinfeksi HIV, juga tak lagi menaruh kesan negatif pada ODHA. Singkat kata, jauhi virusnya, bukan orangnya.

Mungkin, hari ketika pertama kali mereka dinyatakan HIV positif adalah momen tergelap dalam hidup mereka. Tapi bagaimanapun, mereka berhasil melaluinya. Mereka mampu bangkit dan menyulut obor. Bukan sekedar untuk mencari jalan keluar dari kegelapan, tapi juga memperingatkan orang lain agar jangan terjatuh seperti mereka.

Saya pun berhenti menghakimi ODHA.

"Kok bisa sih kena penyakit itu?” Jika saya memang harus mencari tahu jawabannya, itu hanya sebagai informasi riwayat medis pasien. Informasi semacam ini bisa sangat berguna untuk pasien juga lho nantinya. Tapi buat saya pribadi, ngga penting lagi bertanya bagaimana virus itu bisa menerobos masuk ke tubuh ODHA. Biarlah itu menjadi masa lalu kehidupan mereka. Kita tidak berhak menghakimi siapapun hanya karena penyakit yang ia derita.

Jadi, jangan hakimi ODHA lagi.


*

6 komentar:

  1. Balasan
    1. thanks for reading my blog, Aisy ^^

      Hapus
  2. wah rur, pasti takut banget ya waktu terkena jarum itu, hiiii. Betul, jangan hakimi mereka, karena yang berhak menghakimi hanya Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Win. mungkin itu teguran buatku, supaya ngga lagi men-judge orang seenaknya..

      Hapus
  3. Sangat menginspirasi Mba.. saya jadi tercerahkan setelah baca post ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ^_^ tularkan cerahnya pada orang-orang di sekitar ya mbak..

      Hapus

Terima kasih untuk komentarnya :)