Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Minggu, 20 Januari 2013

Untuk Kamu, Apa Sih yang Nggak Boleh?


Sudah baca cerita sebelumnya? Ini dia: Cintaku Mentok di Kamu



Siempre que te progunto
Que, cuándo, cómo y dónde
Tú siempre me respondes
Quizás, quizás , quizás

Aku bersenandung mengikuti nada-nada yang mengalun dari gramofon, sementara Antares duduk santai di sofa panjang dekat jendela. Dia asyik dengan jurnal neurologi terbaru di tangannya, sesekali mengangkat wajahnya dan tersenyum pada kami.

Kami? Ya, padaku dan bayi mungil dalam pelukanku.

“Jadi, apa kamu sudah memutuskan nama untuk jagoan kita?” tanyanya sambil menutup jurnal itu.

Aku menggigit bibirku, bimbang sejenak. “Belum,” dustaku, “belum ketemu yang cocok, Res.”

Setelah keributan di rumah sakit waktu itu, hari-hari berlalu dengan damai. Kami memutuskan untuk tidak lagi menginjakkan kaki di sana dan mengambil resiko bertemu lagi dengan Bahtiar. Antares membawaku ke rumah sakit lain, di mana dokter kandungan yang selama ini kami datangi berpraktik pula di sana. Dokter itu dulu senior Antares di universitas. Dokter itu pula yang menolong persalinanku seminggu yang lalu.

Hatiku diluapi kebahagiaan menyambut hadirnya putra pertama. Satu-satunya yang menggoyahkan perasaan gegap gempitaku ini adalah sambutan mertuaku yang dingin tempo hari, saat Antares dan aku pulang dari rumah sakit, membawa seorang cucu baginya.

“Tiga kilogram? Syukurlah, Ambar, bayimu sehat... Ah, tapi bagaimana ya kalau ada tetangga yang tanya, ‘lahir prematur kok beratnya tiga kilo’? Ibu jawab apa...”

“Ibu!” tegur Antares tajam, marah dan rikuh,  “Ya Ibu bilang saja, aku menghamili Ambar sebelum kami menikah. Atau lebih baik lagi, Ibu jawab saja ini bukan urusan mereka!”

“Kamu tahu lagu ini tentang apa?”

Tiba-tiba Antares sudah berdiri di sisiku. Dia mengambil alih bayiku ke dalam lindungan lengannya yang kokoh, lalu tersenyum mengamati wajah pulasnya.

“Sebenarnya, aku tidak hapal lirik lagu ini... Juga tidak tahu apa artinya,” jawabku.

“Kamu tahu, Ambar,” tatapan Antares terasa sedikit mengejekku, “lagu ini sebenarnya menyindirmu.”

Antares menyanyikan penggalan lagu yang tadi kudengar, lalu memberitahuku artinya dalam bahasa Inggris.

I’m always asking you if you love me.
What, when, where? How will I know?
You always answer me
Maybe, maybe, maybe.”

Aku menciut dalam rasa bersalah. Kualihkan pandanganku pada bayi yang terlelap dalam gendongannya. Wajah bayi itu sedikit mirip denganku, dan... lebih banyak mirip ayahnya. Matanya, bibirnya, mengingatkanku pada Bahtiar.

“Aku tahu kamu tidak mencintaiku saat kita menikah. Belum, pikirku waktu itu. Aku harus bersabar sambil berusaha mengenyahkan lelaki itu dari hatimu, dan menggantikan posisinya di sana... Tapi kadang-kadang aku hilang kesabaran,” katanya murung.

“Bukankah sudah kubilang, Res,” aku membela diri, berusaha menutupi rasa bersalahku, “suatu saat nanti...”

“Suatu saat nanti cintamu akan pergi darinya dan berhenti di diriku?” Antares melanjutkan apa yang tadi hendak kuucapkan, “When? Where? How will I know, Ambar? You always answer me ‘maybe’.

Tap! Antares menembakkan sebaris lirik lagu itu tepat sasaran. Aku tertohok.

Seolah itu belum cukup, Antares menggoyang-goyangkan lengannya, membuai bayi kami sambil menyanyikan sisa lirik Quizás, quizás , quizás seirama dengan suara Nat King Cole. Antares dan Cole, mereka seperti bersekongkol untuk menyindirku.

Estás perdiendo el tiempo
Pensando, pensando
Por lo que más tú quieras
Hasta cuándo? Hasta cuándo?

“Nah! Kalau ini artinya:

You are wasting time
Thinking, thinking
About what you want the most
Until when? Until when?

“Antares! Sudah, ah!” Aku cemberut, mematikan gramofon itu dengan dongkol.

Piringan hitam berhenti berputar. Suara Cole pun menghilang. Antares tertawa geli melihat reaksiku.

“Oke, oke,” katanya setelah tawanya mereda, “aku janji tak akan pernah bertanya ‘hasta cuándo?’ lagi padamu. Dengan satu syarat.”

Tatapannya kembali seperti semula. Tenang seperti telaga berwarna pekat. Kurasa aku mulai menikmati tenggelam di dalamnya...

“Apa?”

“Ketika kamu sudah punya jawaban yang lebih baik dari ‘maybe, maybe’ untuk perasaanku, kamu sendirilah yang harus bilang padaku. Aku mau dengar pernyataan cinta darimu, atas keinginanmu sendiri. Tanpa desakanku, tanpa rasa bersalahmu. Cukup adil kan?”

Ah. Benar-benar, Antares Sang Ksatria baik hati ini...

“Baiklah,” kataku, “dengan satu syarat.”

Antares tersenyum geli sekaligus heran. “Mau bernegosiasi denganku?”

Aku mengangguk.

“Aku setuju. Sebut saja apapun syaratmu.”

Aku mengerutkan kening. Mudah betul dia percaya padaku. Bagaimana kalau aku mengajukan syarat gila? Minta cerai, misalnya. Atau menuntut poliandri dengan Bahtiar.

Ah, gila! Aku berhenti melantur.

“Kau yakin akan mengabulkan syaratku, Res? Apapun?”

“Untukmu, apa saja akan kukabulkan,” katanya, “hanya untukmu.”

Aku merengkuh Antares dan bayi dalam kedua lengannya. Aku meredam semua protes di benakku. Ini terakhir kalinya. Aku janji, ini akan jadi pengingat terakhirku tentang Bahtiar.

Setelah itu, hanya akan ada kami bertiga.

Aku. Antares. Abimanyu.

“Boleh aku namai bayi ini, Abimanyu Prasetya?”


*

14 komentar:

  1. Saya galau baca cerita tentang Mr. B ini. Lebih galau lagi sama mba Ambar. Ah, bagaimanapun juga, saya tunggu kisah galau berikutnya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebelum nerusin cerita galau ini, saya mau pingsan dulu.. (abis ngeliat judul hari ke-9) -__-

      Hapus
  2. mba.. bangun mba..
    saya nungguin kelanjutan ceritanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. *baru mau siuman kalo diiming-imingi bau kue donat*

      Hapus
  3. mba ruri, bangun bangun...
    ini lho ditungguin penggemar setia ceritanya
    #ngacung tinggi tinggi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hoaaahhmmm... *kucek-kucek mata* :)

      Hapus
  4. keren! ceritanya unik. mbaknya pintar banget menghubung2kan judul yang tak terduga dgn alur ceritanya. sumpah. ff ini bikin penasaran. belum bisa nebak endingnya. semoga happy :D semangat! dan salam kenal mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduuuh, jadi terbang dan kejedot eternit nih... *terharu* saya masih amatir, makanya saya ikutan #13haringeblogff biar rajin belajar... makasih Grace, sering-sering mampir yaa ^.^

      Hapus
  5. welcome to world, Abimanyu...
    hhihii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ooeeek! oooeeeek! makasih, tante Wulan! :D

      Hapus
  6. ga sabar nunggu mba ambarnya ungkapin cinta nya ke antares -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. tunggu tanggal mainnya, ya Aisy... ;D

      Hapus
  7. huwaaa, galau bacanya. namanya itu :')

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya :)