Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Selasa, 06 November 2012

Sebaik-baik Pelajaran Adalah Kematian

pengembara


Membaca berita kecelakaan beruntun bus Raharja di Desa Rempoah Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas tanggal 4 November lalu, saya tercekat. Saat melintasi jalanan menurun, supir bus kehilangan kendali sehingga bus menabrak dua sepeda motor, satu mobil dan sebuah bangunan. Di dalam bus naas itu, ada sekitar 50 mahasiswa kedokteran dari beberapa universitas. Dua di antaranya tewas di tempat kejadian.

Novilia Lutfiatul Khoiriyah dan Esti Nuha Ilmi Zakiya, dua korban yang meninggal itu, adalah mahasiswi-mahasiswi Undip. Adik-adik almamater saya sejurusan. Mereka baru berusia 18 tahun. Kalau saya tak salah membaca berita, Novi bahkan akan menginjak usia ke-19 tanggal 9 November nanti.


Di usia segitu, seorang mahasiswa kedokteran pasti punya banyak mimpi untuk masa depannya. Mulai dari yang sederhana seperti lulus kuliah, berkarir atau melanjutkan sekolah spesialis, hingga mimpi yang utopis untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Ia juga punya banyak stok energi dan idealisme untuk berusaha menggapai semua mimpi itu. Tapi, Tuhan menggariskan rencana lain untuk Novi dan Esti. Dia memutuskan untuk memanggil mereka berdua ke haribaan-Nya, sebelum mereka sempat mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Waktu membaca berita duka itu, saya sempat menggugat dalam hati. Dua mahasiswi aktivis organisasi keislaman ini tentunya cerdas, idealis, enerjik dan penuh potensi. Mereka juga masih begitu muda. Kenapa Tuhan mengambil lebih dulu nyawa mereka? Kenapa bukan nyawa para perampok jalanan? Kenapa bukan nyawa para koruptor? 

Salah satu hal yang terlintas dalam benak saya adalah hadis ini; sebaik-baik pelajaran adalah kematian.
Ya, kita manusia seringkali lupa pada-Nya, dan acuh jika diingatkan. Maka, mungkin satu-satunya teguran dan tamparan yang bisa membuat kita tersentak adalah kematian.

Dengan kematian, keluarga dan sahabat korban belajar mengikhlaskan kepergian orang terkasih.
Dengan kematian, para penumpang bus yang selamat belajar mensyukuri hidup.
Dengan kematian, pemilik jasa angkutan belajar bahwa pengecekan kondisi armada itu bukan hal remeh; nyawa taruhannya.
Dengan kematian, petugas penguji KIR belajar mengingat bahwa untuk setiap kendaraan tak laik jalan yang ia loloskan hanya demi segelintir rupiah, ia bisa saja tengah membahayakan banyak jiwa.
Dengan kematian, saya belajar bahwa setiap detik hidup ini berharga dan tidak layak dihabiskan sia-sia.

Hidup, selama apapun kita ingin berada di dalamnya, ternyata cuma fase singkat. Sama singkat seperti pengembara yang istirahat beberapa menit untuk minum dan menghimpun bekal, sebelum melanjutkan perjalanan.
Hidup, sekuat apapun denyutnya, bisa direnggut kapan saja oleh maut.

Pertanyaan yang sering menghantui kita adalah:

Kapan?

Bagaimana?

Mungkin... Sebaiknya kita biarkan saja jawaban-jawaban dari dua tanda tanya ini tetap menjadi rahasia Sang Penentu Takdir. Mungkin, sebaiknya kita tanyakan satu hal penting pada diri masing-masing:

Siapkah saya?

Siapkah kita bila maut menjemput?


*


Teriring doa untuk para korban kecelakaan petang itu:
  1. Novilia Lutfiyatul Khoiriyah (19), mahasiswi FK Undip
  2. Esti Nuha Ilmi Zakiya (18), mahasiswi FK Undip
  3. Kuswandi (49), supir bus Raharja
  4. Ari Permadi (35), pengendara sepeda motor korban tabrakan bus
  5. Siti Hariyati (40)
  6. Haya Inas Zafira (13), pengendara sepeda motor korban tabrakan bus


Berita-berita:





6 komentar:

  1. sedih rur, apalagi banyak banget mimpinya dia yang ditulis di blognya itu.

    sebaik2 pelajaran adalah kematian,

    BalasHapus
  2. Aku jadi sedih :"( Nice post banget ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga berkaca-kaca waktu nulis postingan ini mbak :(

      Hapus
  3. Balasan
    1. sama-sama Aisy, aku ngingetin diri sendiri terutama :)

      Hapus

Terima kasih untuk komentarnya :)