Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Blogger dan Ekosistemnya

Blogger dan Ekosistemnya

Dulu, waktu saya masih menganggap blog hanya sebagai "tempat sampah" pribadi, saya tidak terlalu memikirkan tentang pentingnya menjalin pertemanan dengan blogger lainnya. Yang penting menulis di blog, ada atau tidak ada yang membaca. Ada atau tidak pembaca yang merasa tulisan saya memberi manfaat. Pokoknya,
just me and my blog.

Lambat laun, saya mulai merasakan sendiri kebutuhan untuk berteman dengan blogger lain, baik yang seminat atau pun tidak. Apalagi setelah saya blogwalking kesana kemari dan menemukan bahwa, ngeblog itu bukan cuma untuk diri sendiri. Melihat hal-hal keren yang para blogger lain sudah lakukan dengan blognya, saya jadi menyadari: mubazir juga nih kalau blog, dengan segala potensinya, cuma jadi keranjang curhat.


Sebagaimana manusia lainnya, blogger adalah makhluk sosial yang pastinya saling membutuhkan satu sama lain. Karenanya, berinteraksi dengan blogger lain, termasuk membentuk komunitas, menjadi kebutuhan. Apalagi bila seorang blogger bercita-cita untuk jadi profesional dan mendapatkan penghasilan utamanya dari ngeblog.


Saya pernah membaca beberapa blog milik para blogger profesional, dan di sana mereka beberapa kali menceritakan perjalanannya atau berbagi tips tentang professional blogging, poin penting yang tak pernah absen dari tips mereka adalah: jalinlah relasi dengan para blogger lainnya. Seorang blogger sulit menjadi profesional hanya dengan mengandalkan diri sendiri.


Bergabung dengan komunitas bisa menjadi jalan bagi seorang blogger menuju ekosistem yang lebih luas lagi, yang menawarkan banyak kesempatan.


Baca lanjutannya di sini

Minggu, 10 Juni 2012

Semangat Pagi di Usia Senja


gambar dari sini


Suatu pagi, dari jendela metromini yang saya naiki, saya melihat seorang nenek tua sedang menunggui dagangan sayurnya yang digelar begitu saja di atas trotoar depan pasar. Waktu itu metromini saya ngetem lumayan lama, jadi saya bisa leluasa mengamati nenek itu. Dia termangu lesu, sesekali mengamati lapak ‘teman-teman sejawatnya’ yang mulai ramai pembeli.

Saya lihat sayuran yang dijual nenek itu memang tidak sesegar sayuran yang dijual pedagang-pedagang di sekitarnya. Mungkin nenek itu kalah cepat dari teman-temannya yang lebih muda saat memilih-milih barang segar dari pengepul sayur dini hari tadi. Tapi wajah lesunya langsung berubah ceria saat beberapa pembeli mulai menghampirinya. Trengginas, tangan-tangan kecilnya mengikat segebung daun kangkung dan memotong akarnya. Menimbang tomat dan wortel. Meladeni tawar-menawar. Menghitung cepat dan memberi kembalian uang pada pembeli.

Lansia.

Apa yang terpikir di benak kita ketika mendengar kata itu? Fisik yang melemah? Ingatan yang tak lagi tajam? Kehidupan yang suram dan membosankan?

gambar dari sini

Eh, siapa bilang?

Ternyata usia lanjut tidak selalu identik dengan ketidakberdayaan, atau ketergantungan pada orang lain. Buktinya, nenek penjual sayur itu. Dan, ah! Saya baru saja menemukan dua video menarik di situs VoA, bertajuk Aktif di Usia Senja, tanggal 10 Juni 2012.

Video pertama ini mengulas pusat kegiatan lansia di Fairfax County, Virginia, Amerika Serikat. Pusat kegiatan yang dinamai Senior Centre Without Walls ini, secara harfiah memang ‘tak berdinding’ alias tidak memiliki gedung sendiri karena minimnya dana. Dengan kerjasama antara pihak pemerintah dan para relawan, kegiatan diadakan dengan memakai ruangan di gereja, perpustakaan, atau sekolah.
Kegiatannya apa? Banyak! Mulai dari kelas yoga, tai-chi, klub membaca, sampai kursus komputer dan internet. Aih, gaul amat ya kakek-nenek di sana? :D

Dengan bersosialisasi dan aktif secara fisik, para lansia di sana menjadi lebih gembira, sehat dan bersemangat. Pada akhirnya, ternyata kegiatan ini mampu berkontribusi pada negara, yaitu mengurangi beban biaya perawatan kesehatan.

gambar dari sini

Nah, kalau video kedua ini menampilkan beberapa lansia yang kembali bekerja setelah pensiun. Krisis ekonomi yang tengah melanda dunia menimbulkan fenomena baru di Amerika Serikat, yaitu semakin banyak lansia yang kembali bekerja untuk mendapat tambahan uang. Data Biro Sensus Amerika menyebutkan jumlah perempuan yang berusia 65-69 tahun yang masih aktif bekerja sebanyak 17%, sedangkan jumlah laki-laki pada rentang usia sama yang masih giat bekerja sebanyak 30%.

Ternyata di usia senja, para lansia ini tetap semangat melakukan aktivitas yang produktif dan enggan bergantung sepenuhnya pada famili atau orang lain. Mereka menolak untuk menyerah pada kerentaannya. Semangat mereka luar biasa ya? 

Saya menyebutnya, semangat pagi di usia senja. :-)





Referensi Video:

  1. Aktif di Usia Senja (bagian 1), http://www.voaindonesia.com/media/video/1204724.html, diunduh 10 Juni 2012
  2. Aktif di Usia Senja (bagian 2), http://www.voaindonesia.com/media/video/1204723.html?z=413&zp=1, diunduh 10 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih untuk komentarnya :)

Poskan Komentar