Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Jumat, 13 Januari 2012

Bulan Madu Mendadak (tamat)

9 Desember 2011
Denpasar. 10.00 WITA

Bulan madu masih berlanjut hari ini ^o^. Karena rencananya kami akan jalan-jalan ke tempat-tempat yang agak jauh, Mas Har menyewa satu mobil Avanza. Saya lupa tarifnya berapa (belum termasuk biaya beli bensin), tapi pastinya sudah termasuk pengemudi. Tak lupa kami membawa amunisi berupa berbagai cemilan dan minuman buat bekal selama perjalanan. Pak Nik, pengemudi asli Bali yang memandu kami hari ini, tampil santai dengan topi, kacamata hitam, kaos oblong dan jeans. Selain Bedugul dan Tanah Lot, Pak Nik menanyakan tempat mana lagi yang ingin kami datangi. Hmm, kemana ya?

“Pak Har suka makan babi? Saya tahu tempat makan yang enak,” tanya Pak Nik dengan aksen Bali yang kental nggak pake gula. *krik-krik*
Mas Har meringis. “Saya nggak makan babi, Pak.”
“Kalau anjing, pernah nyoba?”
Mas Har meringis makin lebar. “Hm.. Belum.”
“Ular? Kodok?”
“Ha-ha.. Jangan yang ekstrem-ekstrem dong Pak!” kata Mas Har.
Selain ekstrem, daftar hewan yang disebut Pak Nik kan tidak halal bagi muslim. Ah, tapi mungkin saja kan Pak Nik memang belum tahu kalau makanan-makanan itu dilarang bagi umat muslim.

“Oh.. kalau alkohol gimana, suka?”
Gedubrak!
“Nggak deh, Pak!”
“Hmm.. Kalau begitu, kopi luwak aja? Bisa sekalian lihat cara bikinnya lho,” ajak Pak Nik.
Mas Har yang penyuka kopi langsung tampak berminat. Pak Nik berjanji akan mampir ke kedai kopi nanti.

Pertama, kami mampir di Pura Taman Ayun di Kecamatan Mengwi. Jaraknya sekitar dua jam dari Denpasar, searah dengan Bedugul. Harga tiket masuknya cukup terjangkau, di bawah IDR 10000. Di sini, para pengunjung hanya diizinkan melihat-lihat kawasan di luar pura dengan menyusuri jalan setapak. Di belakang kompleks pura ada taman juga sungai, yang bisa  kita nikmati suara gemericik airnya sambil duduk-duduk di gazebo. Banyak pepohonan dan angin sepoi-sepoi pula. Adem. ^___^


Kompleks puranya sendiri berada di dalam tembok, dan tertutup untuk umum. Tembok ini cukup rendah kok sehingga para pengunjung bisa tetap mengagumi keindahan pura di dalamnya. Saya paling suka melihat bentuk atap pura yang bertumpuk-tumpuk, juga kolam apik yang mengelilingi pura. Nice spot to take some pictures. Futu-futuuu!




Puas berfoto dengan Pak Nik sebagai fotografernya, kami melanjutkan perjalanan ke Bedugul. Di tengah jalan, kami singgah di sebuah kedai kopi luwak. Plang namanya memang terpasang di tepi jalan, tapi kedainya sendiri terletak di belakang, di tengah kebun coklat dan nangka. Kami mesti melalui jalan setapak menuju ke sana. Kedai ini bernuansa alam dengan atap sirap, meja dan kursi-kursi bambu, menyatu dengan kebun di sekitarnya.



Seorang wanita meracik empat cangkir kecil berisi minuman yang berbeda-beda untuk Mas Har dan saya. Keempatnya masih mengepul dan tampak menggoda.


“Ini kopi ginseng, Bali cocoa, Bali lemon tea dan ginger tea olahan kami. Kopi dan coklatnya dihasilkan dari kebun kami sendiri lho. Silakan diminum, gratis. Kalau suka kopi, boleh coba kopi luwak kami.” Wanita itu menjelaskan minuman yang barusan disuguhkannya, sambil menyodorkan daftar menu. Secangkir kecil kopi luwak dibanderol IDR 40000! Strategi marketing yang cukup bagus. Meski dapat free tester dan tak harus beli kopi luwak jika tak berminat, tapi rata-rata pengunjung pasti gengsi dong ya cuma minum sampel gratisan tanpa beli? Hehe. Lagipula iya sih, kopi luwak kan kopi termahal di dunia, apalagi tarifnya tarif turis... Mas Har yang penasaran pingin ngicip kopi luwak akhirnya memesan secangkir.



Saya sendiri paling suka Bali cocoa di antara keempat minuman tadi. Coklatnya kental dan gurih :9 Kopi luwaknya sedap, kata Mas Har. Pantaslah kalau harganya mahal.
Wanita tadi lalu menunjukkan pada kami sebuah toples kaca berisi biji-biji kopi yang menggumpal dan melekat satu sama lain.
“ini biji kopi yang baru keluar dari badan luwak.”
Jadi, bercampur sama kotoran luwak dong ya? Euuh.


Keunikan kopi luwak adalah biji kopinya yang dimakan oleh luwak terlebih dulu. Luwak hanya memilih biji-biji kopi yang bagus dan sudah tua.


Setelah melewati saluran pencernaan, biji-biji kopi itu akan keluar esok harinya bersama kotoran luwak. Selanjutnya biji-biji ini akan dibersihkan dengan air dan dijemur di bawah sinar matahari hingga kering, untuk kemudian disangrai selama sekitar satu jam. Biji-biji kopi pun lalu ditumbuk secara tradisional dengan alu hingga halus, dan diayak. Jadi deh... kopi luwak bubuk!

Seorang nenek sedang menyangrai biji kopi

Gini lho caranya menumbuk biji kopi...

Biji-biji kopi yang sudah halus ini harus diayak dulu
Kami sempat melihat dua ekor luwak yang sedang tidur manis di dalam kandang. Maklum, hewan nokturnal. Luwak-luwak lainnya dibudidayakan di kebun kopi di tempat lain. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami membeli sebungkus lemon tea bubuk yang cukup mahal, tapi rasanya memang mantap banget, nggak nyesel deh. ^.~

Our next stop is Kebun Raya Bali di Bedugul. Sejak memasuki wilayah Bedugul yang terletak di dataran tinggi, udara sangat sejuk hingga kami memutuskan untuk mematikan air conditioner dan membuka jendela mobil lebar-lebar. Wow, udaranya segar dan minim polusi! Kami menghirupnya banyak-banyak, rakus. Bisa dibungkus dan dibawa ke Jakarta nggak? *suvenir kaleee bisa dibungkus* -__-“

Selain sebagai objek wisata, Kebun Raya ini juga merupakan pusat konservasi dan penelitian botani. Kebunnya luas banget! Tepatnya, 157.5 hektar. Karena Pak Nik sudah sering mengajak turis-turis ke sini, sepertinya dia sudah hafal tiik-titik mana yang pemandangannya keren. Ayah berputra satu ini membawa kami semakin naik ke atas, sampai di suatu tempat. Dari sini, kami bisa melihat pemandangan indah yang ada di bawah sana. Jalan raya, tanah perkebunan dan rumah-rumah penduduk, juga sebuah danau bernama Danau Beratan. *Kamera mana kameraaa?*



Pak Nik dan Mas Har

Setelah kira-kira satu jam, kami memutuskan keluar dari Kebun Raya. Sekarang kemana lagi? Nah, kalau tadi kami hanya bisa melihat Danau Beratan dari kejauhan, sekarang kami berada di kawasan wisata Danau Beratan yang ramai dengan turis—domestik dan mancanegara. Pintu masuknya berupa gapura besar berpintu kayu dengan ukiran Bali berwarna merah dan emas. Jalan menuju danau dihiasi dengan macam-macam tanaman bunga cantik. Menjorok ke danau, ada beberapa pura. Disediakan juga perahu bebek yang dijalankan dengan tenaga manusia asli. Pengunjung yang berminat menyusur sampai ke tengah danau bisa menyewa dan mengayuh sendiri pedal perahu itu. Saya sih nggak berminat, karena ogah nggowes. :P

Abaikan pose aneh saya & nikmati saja pemandangan indah di belakangnya

Dari Danau Beratan, kami singgah sejenak untuk makan siang di sebuah warung, lalu sholat di Masjid Besar Al Hidayah, Bedugul-Tabanan. Masjid nya besar juga.


Usai sholat kami lanjut bermobil lagi menuju Tanah Lot. Di tengah perjalanan kami bertemu iring-iringan warga Bali. Berjalan paling depan, adalah petugas keamanan yang disebut pecalang. Menurut Pak Nik, rombongan ini hendak menuju ke suatu upacara.

Pecalang

“Upacara apa persisnya, saya tidak tahu,” kata Pak Nik, “Orang Bali itu banyak upacaranya. Mulai dari lahir ceprot, sampai seribu hari kematian pun dirayakan.”

Kalau kami bisa tinggal lebih lama di Bali, sebenarnya akan ada event menarik yaitu upacara menyambut munculnya bulan purnama, dan Tari Kecak.

Jalan menuju kawasan wisata Tanah Lot agak macet. Semakin sore, terutama di akhir pekan, jalanan ini akan semakin padat oleh rombongan turis yang ingin menyaksikan sunset di Tanah Lot. Pemandangan di sini memang indah, dengan karang bolong dan pura yang berada di atas karang yang menjorok ke laut.


Kami jeprat-jepret lagi di pantai karang sampai puas, lalu tersadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 WITA! Kami pun menyudahi acara jalan-jalan, supaya nggak kemalaman sampai di Denpasar. Di jalur yang berlawanan arah dengan kami, jalan raya padat oleh mobil-mobil dan bus-bus pariwisata hingga berkilo-kilo meter. Merekalah turis-turis yang ingin melihat sunset di Tanah Lot. Selamat bermacet-macet ria ya...

Kami bermaksud mampir di Toko Joger untuk membeli kaos, titipan teman saya di Jakarta, tapi ternyata tokonya sudah tutup. Joger buka pukul 10.00 WITA dan tutup pukul 17.00 WITA setiap hari. Catet tuh, buat yang mau ke Joger! Jadi, kami kembali ke Tune Hotels untuk mandi dan sholat, keluar makan malam, dan nyangkut sebentar di toko Rahayu, beli beberapa kotak kacang oven Bali. Kacang merk Rahayu ini pesanan teman saya juga. Lalu, mampir lagi di Toko Krisna untuk beli kaos pesanan tadi dan sedikit oleh-oleh. Sekedar info, Toko Krisna ini buka 24 jam lho. Habis itu, kami langsung ngacir ke hotel lagi. Capek habis ngider seharian dan mau bobo!


10 Desember 2011
Denpasar. 06.00 WITA.
Sepagi ini Mas Har dan saya sudah rapi dan wangi. Kami akan kembali ke Jakarta dengan pesawat Lion Air pukul 11.10 WITA nanti, jadi kami harus memanfaatkan sisa waktu di Bali sebaik-baiknya. Apalagi kalau bukan keliling naik skuter?? ^.^v

Udara masih dingin, sisa semalam. Jalanan masih lengang. Kami berhenti di gapura jalan masuk Pantai Kuta dan memarkir skuter. Kami berjalan menyusuri pantai. Merasakan pasir yang sejuk dan basah menyusup masuk ke sepatu kami, mengamati kerang-kerang kecil yang terdampar di pantai, mengukir nama kami di pasir, bermain air, dan.. foto-foto dong pasti!




Sesudahnya, kami sarapan di Warung Muslim Harsi. Istilah Muslim ini hanya untuk menginformasikan bahwa makanan yang disediakan di sini halal, tanpa daging hewan-hewan yang diharamkan untuk dimakan umat muslim. Menunya samsa seperti di warteg-warteg. Di Bali, kaum muslim harus agak berhati-hati memilih tempat makan. Warung-warung berlabel “Muslim” seperti yang saya sambangi di atas cukup banyak kok di Bali. Oya, kamu bisa coba juga makan di Warung Nasi Pedas Ibu Andika. Menunya cukup variatif, mulai dari tempe orek, urap, lalapan, teri kacang balado, sampai ikan dan ayam. Rasanya sedap dan sudah pasti pedasss! Menurut saya sih, nasi putihnya juga dikasih merica banyak kali ya. Kami juga sudah mencicipi makan di kedai Bakso Malang Pandawa, yang baksonya dibuat dari daging sapi dan ayam. Ya, intinya sebelum pesan makanan, minimal tanyakan saja dulu apakah kedai atau restoran itu juga menyediakan menu daging-daging hewan yang haram bagi muslim.

Kenyang sarapan, kami datang kembali ke Joger. Bukan untuk beli kaos, karena jam bukanya masih lama :P Kami cuma ingin berpose di depan tembok berisi tulisan-tulisan menggelitik khas Joger.



Terakhir, kami bernarsis ria lagi di depan pintu masuk Bandara Ngurah Rai sebelum kembali ke hotel.

Setelah Mas Har mengembalikan skuter sewaannya, kami berdua segera berangkat ke bandara Ngurah Rai. Oh, well, this is it... Leaving B Island and going back to the J Town. Bulan madu mendadak yang manis ini harus berakhir. Sampai ketemu lagi, Bali! \^o^/ 



6 komentar:

  1. itu foto paling bawah aku juga pernah ke situ dan foto juga... muehehehhe


    sayangnya aku nggak sempat ke bedugul, musti pulang kejar pesawat, kalo enggak bisa delay gara2 obama....


    duh iri deh sama yang honeymoon

    BalasHapus
  2. bulan madunya kan desember, nikahnya kapan dear? apakah ini honeymoon kedua? Makin iri

    BalasHapus
  3. meritnya sih udah sejak juli 2010 hani.. hehehe. biar nggak iri cepetan hani cari orang yg mau diajak bulan madu... *ngumpet*

    BalasHapus
  4. Cuit cuit mesranyoooo :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. biarin ah, mesra ama suami sendiri mah sah-sah aja. hehehe.. ;-p

      Hapus
  5. Cuma 2 hari? Hebat...

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya :)