Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Rabu, 23 April 2014

(Book Review) Tea For Two


Judul        : Tea For Two
Penulis     : Clara Ng
Penerbit   : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal       : 312 halaman

Sassy adalah pemilik Tea For Two, sebuah perusahaan biro jodoh yang dibangunnya dari nol. Di zaman modern ini, banyak lelaki dan perempuan lajang di kota besar hampir selalu disibukkan oleh karier. Kehidupan mereka berkutat antara tempat kerja dan rumah. Kesempatan untuk bertemu pasangan hidup menjadi terbatas, dan mereka butuh bantuan pihak ketiga untuk mencarikan calon pasangan hidup. Kalau dulu perjodohan dicomblangi oleh keluarga atau teman, kini sudah banyak dilakukan oleh biro jodoh, yang dipandang efisien. Cukup memberi gambaran seperti apa dirinya, dan apa kriteria pasangan yang diidamkan. Biro jodoh akan membantu mencarikan calon pasangan, sekaligus mengatur pertemuan perkenalan mereka. Selanjutnya? Terserah pasangan tersebut, dan juga takdir Tuhan tentunya. :)

Awalnya Sassy melihat perjodohan hanya sebatas bisnis yang menguntungkan. Meski bergelut dalam dunia penuh romantisme, Sassy justru punya pendapat yang agak sinis soal cinta.

Cinta itu seperti narkoba, dia membuatmu ketagihan. Masalahnya, ada manusia yang entah mengapa tidak mendapat kesempatan merasakan sakaw cinta. Jarang mendapat kesempatan mabuk kepayang. Di sinilah peran perusahaan saya. Singkatnya, saya menjual paket cinta dosis tinggi kepada orang yang membutuhkan. 

Ketika perusahaan saya mulai menggeliat dan menghasilkan uang, saya semakin tidak percaya dengan cinta, walau di depan semua orang saya berusaha meyakinkan mereka (atau diri saya sendiri?) bahwa saya percaya dengan cinta.

Namun, di luar skeptisme itu, Sassy punya konsep yang realistis tentang cinta, dan saya setuju soal ini:

Kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Saya tidak percaya teori ngaco itu. Bagi saya, cinta datang secara bertahap. Perlahan-lahan. Halus bergerak seperti sayap kupu-kupu yang bergetar lembut di dalam perutmu.

Siapa sangka, Sassy harus menelan semua pendapatnya itu setelah mengenal Alan; lelaki yang berhasil menyita hati Sassy sejak pertama bertemu. Tampan, maskulin, cerdas, hidup mapan, dan selalu menghujani Sassy dengan kata-kata manis, perhatian dan hadiah-hadiah spektakuler. Belum pernah ada Mr. Perfect yang memperlakukan Sassy semacam ratu begitu. Tapi apa iya Alan sesempurna itu?

Sahabat-sahabat Sassy berusaha memperingatkan bahwa ada sesuatu yang janggal pada perilaku Alan. Sassy mengabaikannya, dan memilih tetap bersama Alan. Menurutnya, kekurangan Alan, apapun itu, bisa diterima. Bukankah begitu seharusnya cinta? Saling menerima ketidaksempurnaan masing-masing, dan saling menyempurnakan.

Begitulah, setelah berhasil mempertemukan banyak pasangan, bahkan hingga ke jenjang pernikahan, kini giliran Sassy memulai kisah cintanya sendiri. Namun, tak butuh waktu lama untuk tahu bahwa Alan jauh dari sempurna. Seperti kata orang, what seems too good to be true, is too good to be true. Alan mulai menampakkan perangai aslinya yang abusif, bahkan sejak masa bulan madunya dan Sassy.

Bagaimana MUNGKIN perempuan cerdas seperti saya menikah dengan lelaki yang memukul saya di hari kedua honeymoon kami? Percaya atau tidak, saya juga tidak tahu. Saya tidak paham!

Luka-luka yang Sassy alami bukan semata fisik, tapi juga psikis lewat hinaan-hinaan yang merendahkan. Kecemburuan dan sikap posesif Alan yang dulu Sassy anggap tanda cinta, sekarang terasa seperti belenggu dan cekikan di lehernya. Alan sangat membatasi apa yang boleh dilakukan Sassy dan siapa yang boleh berteman dengannya.
Dengan hadirnya Emma, putri pertama mereka, Sassy berharap suaminya kembali menjadi lelaki lembut dan romantis yang dulu dinikahinya, sekaligus ayah yang menyayangi Emma. Tapi sebaliknya, kekasaran Alan justru semakin menjadi. Keluarga dan sahabat-sahabat Sassy berusaha membuka mata Sassy, bahwa pernikahan ini sudah tak sehat lagi.

"Ya, Sayang, kita harus memberi kesempatan kedua dan mengampuni yang salah," kata Mama pelan, "tapi ada saatnya kita juga harus menghentikan kesempatan itu."

Tapi Sassy terus menutup mata dan bertahan mencintai Alan. Sassy selalu berusaha menyenangkan Alan, dan selalu menyalahkan dirinya untuk semua perlakuan buruk Alan padanya. Sassy kurang langsing, kurang cekatan, kurang merawat diri, dan seribu kurang lainnya, karena itulah Alan membencinya.

Saya memang harus berkali-kali diingatkan agar dapat menjadi perempuan yang sempurna. Mungkin Alan habis kesabarannya. Ya, siapa yang bisa sabar menghadapi saya yang salah dan selalu ceroboh?

Sampai suatu saat, lewat suatu kejadian pahit, Sassy baru melihat sejelas-jelasnya lelaki macam apa sesungguhnya Alan. Pada titik nadir ini, haruskah Sassy mencoba lagi mempertahankan pernikahan mereka?

Dahulu, yang terbayang dalam benak saya ketika mendengar kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah, keluarga-keluarga yang memiliki taraf hidup menengah ke bawah. Mereka yang harus bergumul tiap hari dengan kerasnya tekanan hidup bisa berubah menjadi orang lain yang lebih hampa, lebih sedikit empati.

Dulu saya pikir, yang bisa menjadi korban KDRT hanyalah anak-anak dan para perempuan yang tingkat pendidikannya rendah, atau yang bergantung sepenuhnya secara finansial kepada suami mereka. Mereka cenderung memiliki posisi tawar yang lemah dalam rumah tangga, tidak berhak mengambil keputusan penting dan lebih banyak bersikap pasif. Satu lagi. Dulu saya pikir, KDRT bukanlah kisah yang akan dialami oleh pasangan yang menikah karena cinta dan rasa sayang. Masa iya sih, kita tega menyakiti orang yang kita cintai?

Tapi setelah membaca Tea For Two, saya harus berpikir ulang tentang semua hal di atas. Sassy adalah perempuan yang berpendidikan dan mandiri, bahkan berhasil membesarkan perusahaannya sendiri dan menjadi sumber nafkah bagi puluhan karyawannya. Seharusnya, dengan apa yang dimilikinya, Sassy bukanlah seorang yang lemah dan tanpa posisi tawar dalam rumah tangga. Tapi atas nama cinta, Sassy bertekuk lutut dan seolah kehilangan logikanya. Ketika mengalami siksaan fisik dan mental, bahkan keselamatannya bisa terancam, dia terus-menerus memaafkan suaminya dan justru mencari-cari kesalahan pada dirinya sendiri. Sassy baru terbuka matanya dengan bantuan ibu dan sahabat-sahabatnya.

Tak seperti kebanyakan novel yang mengisahkan pernikahan yang indah dan manis, Tea For Two mengupas sisi kelamnya. Bahwa ternyata KDRT bisa dialami siapa saja. Tak peduli tingkat pendidikan atau taraf ekonominya. Para korban sering menganggap dirinya lah yang bersalah, dan pantas diperlakukan buruk oleh penyiksanya. Alasan lain korban enggan meninggalkan pasangan yang abusif adalah, malu jadi janda. Seperti yang Sassy rasakan:

Saya malu jika bercerai. Perceraian bukanlah keberhasilan yang pantas dibanggakan.

Dalam ajaran agama yang saya anut, ikrar pernikahan adalah janji sakral dan agung yang disaksikan oleh Tuhan, dan bahkan bernilai ibadah di mata-Nya. Perceraian suami-istri adalah hal yang dibenci-Nya. Tapi pada kondisi di mana pernikahan tidak lagi kondusif untuk terwujudnya keluarga yang sakinah, dan semua jalan damai yang sudah ditempuh berujung buntu... Sehingga mempertahankannya akan membawa lebih banyak keburukan ketimbang kebaikan... Apa boleh buat! Pernikahan  itu harus diakhiri. Misalnya, karena pasangan berulang kali berkhianat atau suka menganiaya.

Di sini, peran orang-orang terdekat sangat penting untuk menjaga dan mendampingi korban dalam masa sulit; menyadarkannya kembali bahwa dia adalah manusia setara seperti lainnya, yang berhak dicintai dan dihargai, bukan disakiti. 

"Kamu tidak sepantasnya berada dalam hubungan yang merusak seperti ini. Kamu punya pilihan."

Last but not least, salah satu kutipan favorit saya adalah ini:

"Jangan takut memperbaiki kehidupan, jangan takut menjadi baru."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih untuk komentarnya :)